Perjalanan Malam

Malam itu dingin, satu-dua mobil lewat. Truk-truk lepas ke jalan setelah melewati titik pemeriksaan. Nina mengemudi sendirian. Derum mesin mobilnya terdengar halus melintasi jalan-jalan yang sepi. Ia bisa melihat kegelapan di balik jendela-jendela rumah. Lampu-lampu teras menyala kesepian ditemani gemerisik serangga di antara tanaman taman dan beberapa kucing yang sedang patroli.

Nina melewati tanda batas desa. Moncong mobil berhenti tepat di garis batas simpang terakhir sebelum jalan membawanya ke sudut lain pulau itu. Setelah itu hanya akan ada lampu setiap sekian kilometer bila kebetulan ada rumah di tepi jalan.

Nina menghela nafas. Lampu lalu lintas berganti warna menjadi kuning, lalu merah. Derum mesin mobil berhenti meninggalkan kesunyian mencekat kaca-kaca jendela mobil yang berembun.

Seluruh kaca jendela diturunkan, sebatang rokok dipancing dari saku kemeja flannel biru Nina dan ujung rokok itu dibakar. Nina menghisapnya dalam-dalam, menurunkan sedikit sandaran kursi, menenggelamkan diri di jok.

Malam itu sepi sekali. Langit sangat cerah. Beberapa bintang terlihat terang dari tempatnya duduk.

Lampu berganti dari kuning ke merah lagi.

Nina meraih topi kupluk dari dashboard dan memasang topi itu di kepalanya.

Sebuah truk besar berwarna hitam dan hijau terang lewat dengan kecepatan tinggi melintasi perempatan itu. New Fear The Me Is Three. Lampu masih berwarna hijau. Nina menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan garis asap yang panjang.

Dari dalam tasnya di sudut ia mengeluarkan sebuah cd player portable dan sebuah headphone. Isi CD player itu album rekaman System of A Down. Tidak butuh waktu terlampau lama untuk ditulikan hentakan dram dan kocokan gitar bertempo tinggi penuh distorsi.

Mesin mobil menyala.

Lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah.

Intro lagu kedelapan terdengar. Forest. Nina membesarkan volume suara hingga bocor keluar dari headphone yang memberangus pendengarannya dari dunia.

Lampu berubah menjadi kuning.

Dalam gelap terdengar suara persneling mobil dipindah. Nina menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai. Mobil itu melompat melesat menembus kedalaman malam yang hitam, menjadi satu dengan kegelapan.

Angin menerpa wajahnya, dingin membuat kulit wajahnya seperti mati rasa. Matanya berair terkena hembusan angin. Ia tidak mengangkat kakinya sedikitpun dari pedal gas.

Ini adalah perjalanan tengah malam. Ia sedang memburu jalan menuju surga, atau apalah saja yang menunggunya begitu kegelapan menyelimuti peti mati. Ia merasa seperti berenang di dasar laut kelam yang dipenuhi kemerlap binatang-binatang aneh yang sembunyi di kehitaman terdalam. Gendang telinganya berdentum karena tekanan suara. Derak jantungnya ataukah debar dram?

Dan Nina terus terbang mengarungi kegelapan itu hingga di kilo kesebelas ia melewati sebuah lampu jalan. Nina terus terbang dalam pekat malam.

---

Matahari sudah terbit saat Nina terbangun oleh ketukan di kaca jendelanya. Ia telah tertidur di mobil. Ketukan itu terdengar lagi. Buru-buru ia menurunkan kaca dan mengusap kantuk dari mata.

“Selamat pagi.”

“Apa kabar? Sedang apa kamu di sini pagi-pagi sekali?” Jack membukakan pintu. Nina keluar dan mereka berdiri bersebelahan, menyender pada mobil. Beberapa penangkap ombak pagi telah bersiap, mendayung tubuhnya ke tengah lautan. Jack menaruh papan selancarnya di atas atap mobilnya.

“Kamu mau donatku?” Jack menawarkan kantung kertas berwarna putih oranye.

Nina menerimanya, mengintip isinya. Tinggal separuh donat dengan topping coklat dan kacang. Ia makan juga. Jack menatapnya bergerak dan menarik nafas, lalu mendadak memeluknya. Nina diam saja, meneruskan makan sementara Jack membenamkan hidung dan dagu ke rambutnya. Nina bisa mencium aroma pelembut cucian di kaus Jack.

“Ada air minum?” tanya Nina.

“Hmm.. ada di tas, di mobil,” jawab Jack tanpa berniat melepaskan pelukannya.

Nina menoleh mencari-cari Katana hitam sewaan turis gila ombak itu. Mobil itu diparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Kunci.”

Jack merogoh isi kantong celana pendeknya dan mengeluarkan kunci yang diikat erat dengan tali ke celana itu. Nina mengambilnya, melepaskan diri dari Jack lalu ke mobil, mencari botol minum. Jack menunggu di tempatnya berdiri.

“Kenapa tidak bilang mau ke sini?” tanya Jack ketika Nina kembali dengan botol airnya.

“Karena baru sampai Gilimanuk tengah malam, bareng truk dari Jawa”

“Sendirian?”

Nina mengangkat bahunya.

“Tidur di mana?”

Nina menunjuk mobilnya.

“Mandi?”

Nina menunjuk laut.

Jack mengerutkan kening dan menunduk. Ia mengulurkan tangannya, Nina memberikannya botol minum.
“Mau ke mana sekarang?”

Nina mengangkat sebelah bahunya. Manja. Mereka berpandangan. Gadis itu maju dan memeluk Jack erat. Jack balas memeluknya. Mereka berdiri berpelukan seperti itu selama beberapa saat. Sejumlah pasang mata terarah pada adegan mesra pagi hari itu.

“Mau sarapan?”

“Nanti aku cari burger daging oplosan lisensi Amerika,” jawab Nina sambil tersenyum.

“Mau aku temani?”

“Nggak usah”

Jack tersenyum. Ia mengecup kening Nina dalam lalu melepas kausnya.

“Tunggu ya?” serunya sambil membawa papannya lari ke tengah laut, menyusul kawan-kawannya.

Nina melambai dengan senyum. Ia melipat kaus Jack, membenamkan wajahnya ke kaus itu, mencium aromanya, lalu menaruhnya rapi di jok depan mobilnya. Ia pergi lalu kembali dengan sebungkus makanan fastfood, duduk di atap mobilnya menikmati pemandangan kejar-kejaran antara buih dan manusia.

Read previous post:  
77
points
(753 words) posted by F_Griffin 12 years 41 weeks ago
70
Tags: Cerita | drama | Cinta | drama | Griffin | Kelekatu
Read next post:  
Writer Redo Rizaldi
Redo Rizaldi at Perjalanan Malam (11 years 34 weeks ago)
80

Masih dingin
mendekati sempurna

Writer F_Griffin
F_Griffin at Perjalanan Malam (12 years 39 weeks ago)

nyehehe friends with benefits ya ;) nice way to describe it.
Saya juga lagi dilema mau memasang dialog berbahasa Inggris kok melelahkan. Jadi minimalisasi lah... walaupun kadang suka nyeplus :(
What is really going on with them? :D aha... kalau jalinannya sudah mulus, akan ketahuan. Sekarang lagi berusaha menjalin yang rapi jali nih...
"Braid miss? Braid? Massage? Braid miss?" Begitulah kata mbok mbok di pantai Kuta.

Writer FrenZy
FrenZy at Perjalanan Malam (12 years 40 weeks ago)
50

Jack nya ga berbahasa Inggris lg dsini? Nina ama Jack itu semacam friends with benefits ya.. aku paling suka yg pas Nina nanya, bagaimana berhenti mencintai.

Writer wafie
wafie at Perjalanan Malam (12 years 40 weeks ago)
70

Cukup Sederhana!
Kalau dilihat dari segi narasinya cukup mewakili dan penggalan, serta alur cerita yang mengalir.
Tapi sayangnya, dari cerpen yang berjudul PERJALANAN MALAM sampai pada cerpen KEDATANGAN JACK itu tidak menghasilkan Ending cerita yang memuaskan untuk dcerna. Anda terlalu keasyikan menceritakan pentokohan si NINA, tanpa mempertimbangkan kembali betapa pentingnya nilai keotentikan sebuah Ending cerita.
Akhirnya, sampai saat ini saya masih bingung untuk mendapatkan ide cerita yang diusung oleh penulis sendiri.
Mengapa demikian, yang jelas, kalau di cerpen yang berjudul "Perjalanan Malam", anda menggabarkan figur seorang NINA, dan cerpen yang ini, anda pun berlaku seperti itu. Artinya tidak ada penggambaran ending cerita yang memuaskan mengenai si NINA itu.
Dari cerpen "Perjalanan Malam" seharusnya disitu anda lebih terfokus pada malam, malah di akhir cerita anda lepas landas dari pengkisahan awal mengenai malam itu sendiri. Padahal, kalau mengingat tema yang diusung, adalah sebuah Perjalanan Malam. Tapi, diakhir cerita malah yang ada tentang si NINA bagaimana berlakon di siang hari.
Dan, mengenai cerpen "Kedatangan Jack" yang jelas, cerpen ini mestinya diakhiri oleh sebuah adegan atau semacam pertemuan yang membuat si NINA terpukau karena melihat kedatangan seseorang (jack). Atau bagaimana kedatangan Jack itu sangat berharga sekali atau spesial buat si NINA. Sehingga ide ceritanya pun terasa sempurna, dan nikmat dibaca.
Tapi, lagi-lagi dalam ending cerita ini gak ada penjelasan kisah kearah situ. Adanya, malah kepergian NINA dari rumahnya. Ini kan sudah jelas, menunjukkan kontradiksi dengan tema yang diusung tadi.
Sebenarnya,saya juga gak tahu sih, harus menilai lebih lanjut mengenai kedua cerpen anda ini. Tapi yang pasti, kedua cerpen anda itu sangat bagus sekali dan bisa membuat pembaca penasaran sama ending cerita yang beginian.
Pembaca pasti bertanya2; "ini CERPEN apa CERBUNG yach!." Begitu tanya mereka dalam nalurinya. Aku sadari juga seperti itu awalnya. hihihihihi :D
Keep Writing Yach... Good Posting!
Sorry, jika ternyata aku hanya bisa memberi nilai tujuh dari cerpenmu ini, karena aku memang memberi nilai pada setiap celotehku pasti bersamaan dengan waktu yang menggiringku. Dan waktu aku menulis komentar ini, pas sekali menunjukkan jam 19.00 malam waktu Mesir. Jadi ya gitu deh! :) :D
Juga mohon maaf, jika komentarku terlalu banyak dan menyakiti perasaan kamu. Aku gak bermaksud kesitu!
( Aku hanya ingin belajar menjiarahi kata-katamu. Itu saja! :) )
"Salam Damai Dari Kairo"
Negeri Piramid, 11 Jan '07

Writer izayoi
izayoi at Perjalanan Malam (12 years 40 weeks ago)
70

kurang intim... ^^

Writer dhilwas
dhilwas at Perjalanan Malam (12 years 41 weeks ago)
90

Nah ini dia yang diperlukan ketika membaca sebuah karya, yaitu langsung dan deskriptif. Sebab, banyak yang menyangka kalau menulis novel karena alasan halaman yang mesti banyak membuat penulis menuliskan apa saja yang sebenarnya nggak perlu dan dengan maksud memperbanyak halaman. Jujur, saya bisa mengikuti setiap detik dalam tulisan ini. Ayo, terusin. www.novelis.blogdrive.com

Writer nightcrawler
nightcrawler at Perjalanan Malam (12 years 41 weeks ago)
70

narasi yang mantap. asyik. bukan basa-basi lho... gw juga harus belajar nulis kayak gini. hmmmm...

Writer yoshe
yoshe at Perjalanan Malam (12 years 41 weeks ago)
70

Hehe... konyol ya judul komen-ny? Abis aku bingung mau nyebut apa. mau bilang romatis, udah ada yang bilang. Jadi ya... gini aja. 1 aja masukkan dari aku. Kayakny penjelasan mengenai waktu dan tempat dan sikon lainny yang begitu banyak, bikin sulit dimengerti buat beberapa orang (sok tau, ya?) Yah, ini sih cuma pendapatku. Oke, ditunggu ya lanjutannya.

Writer Valen
Valen at Perjalanan Malam (12 years 41 weeks ago)
90

Aq ingin belajar gayamu bertutur dng menarik, tanpa membosankan meski yg diomongin cuma sebuah perjalanan, tp berakhir dng adegan yang...
So romantic...Hmmm...
Jadi pengen baca keseluruhannya.
Belum keungkap nih, Jack tuh siapa? bgmn kelanjutannya dn Nina. Ditunggu ya kelanjutannya...
Good!