Miss Private Number

Mimpi itu membuatku jatuh cinta padanya. Memang sulit dipercaya, tapi memang mimpi itulah kenyataannya. Dia adalah salah satu seniorku di kampus. Mulanya aku hanya tertarik sekilas padanya, yang saat itu hanya memunculkan kalimat ’Hm, dia cakep banget, aku suka sekali dengan alis tebal, mata sayu, dan rambut jabriknya’. That’s it, dan tidak sekalipun aku pernah memikirkannya setelah melihatnya pertama kali. Mungkin alam bawah sadarku berkehendak lain. Malam itu entah kenapa dia muncul di mimpiku. Dan entah kenapa juga, di mimpi itu seolah-olah kami pacaran di sebuah kota besar, yang padat dan penuh gedung-gedung tinggi. Yang kemudian membuatku mengerti adalah ternyata gedung-gedung dalam mimpiku itu memberikan makna bahwa dia ternyata anak Jakarta yang kuliah disini, di Semarang. Susah dipercaya memang.
”Nih nomor handphone Andro. Gue tadi nggak punya malu tuh demi mintain nomor handphone cowok impian lo ke Mbak Wena.” ucap Maya yang juga anak Jakarta memberikan secarik kertas padaku. Maya adalah sobat yang banyak menyelamatkanku dalam dunia kuliah yang kejam, penuh tugas-tugas dan praktikum-praktikum yang padat menyiksa. Kami baru saja nyampe kos pulang kuliah.
”Mbak Wena? Mbak Wena angkatan 98 itu?”
”Ya iyalah, lo lupa cowok impian lo tuh anak angkatan 98?”
“Nggak sih, tapi gila aja, itu kan temen seangkatannya. Nanti kalau dia bilang-bilang ke Andro gimana?”aku mulai cemas, dan seperti biasa kecemasan akan menaikkan skala kepanikanku.
”Nyante aja, Mbak Wena kan nggak deket-deket amat sama Andro. Udahlah, sana telpon dia atau SMS atau gimana gitu. Gue prihatin sama lo, Ra, cuma bisa ngelihatin tuh makhluk dari jauh aja tiap hari, suka salah tingkah nggak jelas kalau ada dia di deket-deket lo di kampus… kasihan sekali kau, Nak…”Maya menggeleng-geleng sok prihatin.
“He doesn’t even know I’m alive…”ucapku mengopy lagu milik 98degrees, Invisible Man, yang akhir-akhir ini sering aku dengerin sejak aku suka sama Andro.
“Nah itu lo sadar. Kalo’ lo pengen diakuin ada sama tuh makhluk yang… sori ya, Ra, entah kenapa menurut gue tuh makhluk ancur banget, nggak ada ganteng-gantengnya!”
“Tapi aku nggak berani, May. Nanti kalau dia tahu aku suka sama dia, terus...”
”Terus apa? Lo tuh kebanyakan takut macem-macem deh. Gini aja, Lo iseng aja misscall dia tapi lo sembunyiin nomor lo, jadi private number gitu. Kalo’ gitu kan dia nggak tahu nomor lo.”
“Boleh juga tuh.”
“See? Gue memang brilian!”
Aku mengikuti anjuran Maya. Mulanya dia cuek saja, tapi sepertinya dia mulai terganggu, aku tahu itu dari nada suaranya ketika mengangkat telepon. Lalu entah gimana aku punya ide gila untuk mengiriminya SMS yang menyatakan perasaanku padanya. Ide itu muncul ketika aku mendengar sebuah lagu di radio. Lagunya Selena yang berjudul ’Dreaming of You’. Lagu itu pas banget dengan keadaanku saat ini.
”Dengerin deh liriknya, May... wonder if you even see me, and I wonder if you know I’m there, if you looked in my eyes, would you see what’s inside? Would you even care?...”
“He doesn’t even care cuz he doesn’t even know you’re alive, remember? Lo tuh selalu ngepasin lagu-lagu sama keadaan lo deh.”
“Lagu kan soundtrack kehidupan, May... Reffnya! Cocok banget sama aku! Aku mau kirim SMS yang berisi reff nya!”
“Lo yakin? Katanya tadi lo nggak pengen nomor lo ketahuan?”
“Nggak peduli ah! Pokoknya aku pengen SMS, lagian dia nggak akan berpikir kalau yang suka ganggu-ganggu dia pake private number dan kirim SMS itu juniornya kan?”
“Yee… dari tadi napa mikir kayak gitu? Jadi nggak perlu sembunyiin nomor, dan siapa tahu dia telpon balik.”
Aku langsung menulis pesan dari reff lagu itu, satu SMS yang cukup panjang.

I’ll b dreamin of u 2nite, til 2morrow I’ll b holdin u tight
n there’s nowhere in d world I’d rather b, than here in my room
dreamin about u&me…
I juz wanna hold u close, but so far, all I have r dreams of u
So I wait 4 d day&d courage 2 say how much I luv u, Andromeda Rakaditya…

Message sent, message delivered.

Skala kepanikanku langsung overlimit ketika Andro menelepon ke ponselku. Maya langsung antusias dan penasaran ingin aku mengangkatnya namun aku hanya bisa menimpa ponselku dengan bantal dan menutup telingaku.
”Ayo dong, Ra, angkat!”
Aku masih menutup telingaku dan menggeleng-geleng ketika ponselku terus meraung-raung hingga akhirnya berhenti.
”Dia pasti penasaran banget sama SMS kaleng itu! Apalagi tadi lo manggil dia pake nama lengkapnya.”komentar Maya lalu meninggalkan semua kertas-kertas gambar yang jadi tugas kuliah kami berantakan di lantai kamar kos. Dia menghampiriku, mengangkat bantal dan meraih ponselku.
”Gila, enam misscalls!”
Panicmeter perasaanku langsung pecah akibat skalanya yang semakin over ketika aku menerima SMS dari Andro. Pelan-pelan kubuka SMS darinya dan langsung membuatku down.

Lo siapa sih? Lo yg td mc2?
Bisanya krm SMS g jls, itu yg lo sebut cnta?
B’arti cnta lo nothing!

”Kurang ajar banget dia! Udah bagus ada yang suka sama dia! Nggak tahu diri banget sih!” Maya marah-marah dan berusaha menghiburku. Tapi aku sudah terlanjur sedih, mungkin aku memang pengecut hanya berani kirim SMS ke dia, tapi dia nggak berhak menghina cinta seorang cewek buat dia. Dia nggak tahu, aku memang nggak kenal sama dia tapi aku benar-benar jatuh cinta sama dia. Saat itu aku langsung memutuskan untuk mengakhirinya. Aku langsung mengirim SMS balasan yang berisi permintaan maaf telah mengganggunya dan menegaskan bahwa aku tidak bisa mengatakan siapa diriku.
Aku sudah akan menepisnya dari pikiranku, tetapi SMS darinya dua hari kemudian membuatku goyah.

Lg ngpain sore2 gn?
Kok g pnh iseng2 mc lg, miss private number?

Aku langsung luluh, aku menganggap dia telah memberiku kesempatan. Sore itu tanpa kusangka, aku mulai ber-SMS dengan dia. Dan yang membuatku takluk adalah cara dia memanggilku, dia selalu memanggilku dengan kata ’miss’. Jujur saja, itu membuatku melayang. Dia memang tidak memaksaku mengatakan siapa diriku sebenarnya, tapi malam itu di acara musik kampus, aku hampir ketahuan. Aku melihatnya meminjam ponsel salah seorang teman cowok seangkatanku yang kenal banget dengannya karena mereka berasal dari kota yang sama. Dan saat itu pula aku melihat nomor teman cowokku itu menelepon ke ponselku. Tentu saja aku tidak mengangkatnya. Aku sempat panik dan menganggap dia sudah tahu identitasku. Maya langsung mengambil tindakan.
”Tadi gue pinjem HP Edo, nomor lo nggak ada di phonebook nya. Edo nggak nyimpen nomor lo. Artinya, meski Andro coba-coba cari tahu tentang miss private number tadi, lo masih aman.”
“Untung aja aku nggak pernah ada hubungan atau bergaul sama Edo jadi dia nggak nyimpen nomorku. Tapi berarti Andro sudah mulai punya kecurigaan sama orang-orang di sekitanya. Dia curiga aku sekampus dengannya.”
“Sebenernya dia tuh ke-PD-an. Dia maen manggil-manggil lo miss aja, padahal belum tentu yang kirim SMS dia tuh cewek, terus belum tentu juga seumuran kuliah. Lo tenang aja lah, gue pikir meski dia penasaran dia nggak bakal susah-susah cari tahu nomor lo kemana-mana. Memang dia nggak ada kerjaan apa? Dia kan udah mau lulus.”

Aku terus saja berhubungan dengannya lewat SMS demi SMS. Dia selalu mengawali SMS kami menjelang tengah malam, dan itu bisa membuatku terjaga hingga dini hari, hanya karena ber-SMS dengannya.
”Miss, gue kangen rumah nih... Lo suka liat pertandingan tennis ga, miss?... Oh, lo ga ngerti, gue ajarin scoring di tennis ntar, coba deh liat seru banget deh… Miss, lo tuh kuliah dimana, kapan lo kasih tahu nama lo…Lo kayak apa sih, miss? Menurut bayangan gue lo tuh indah banget… Miss, I think I’m not feeling well now… Gue lagi siap-siap mo seminar Tugas Akhir nih miss, gue takut banget... Miss, gue ga bisa tidur nih, lo mesti temenin gue&lo ga boleh tidur sebelum gue tidur… “ malam itu Maya merebut ponselku dan membaca beberapa SMS dari Andro keras-keras.
“Maya, udah dong..."
“Kok lo mau-maunya jadi tempat dia ngeluh? Terus gue tahu sekarang, jadi gara-gara dia lo mendadak nonton pertandingan tennis semalam di TV? Dan lo nyari-nyari koran olah raga cuma buat cari tahu tentang pemain tennis favoritnya? Dara, Dara... lo sudah terbutakan oleh cinta.”
”Dia pernah marah-marah sama aku, May, gara-gara aku ketiduran waktu liat pertandingan tennis di TV. Aku nggak balas SMSnya terus dia misscall-misscall dan marah-marah lewat SMS paginya. Tapi besoknya dia udah baik lagi, SMS-nya yang lembut-lembut gitu.”
”Emangnya dia siapa lo nyuruh-nyuruh nemenin dia buat begadang, dan lo mau-maunya nurutin dia. Heran gue, dia seenaknya aja berubah-ubah. Mau sampe kapan lo beginian sama dia? Lo nggak pengen ketemuan sama dia gitu?”
Dalam hati sebenarnya aku ingin sekali bertemu dengannya tapi aku takut. Aku takut dia akan pergi setelah bertemu aku. Aku takut nggak bisa berhubungan lagi dengannya seperti yang sudah kujalani dua bulan ini. Tiap kali aku papasan atau melihat dia di kampus, aku merasa jantungku hampir copot, aku takut sekali kalau ternyata dia sudah tahu siapa diriku. Dia memang suka berubah-ubah mood, tapi aku bisa menerimanya. Aku hanya ingin terus begini.

Aku pernah sekelas dengannya di suatu mata kuliah, dan saat itu dia duduk tepat di belakangku. Aku benar-benar gugup, apalagi mendengar dia berbicara dengan teman sebelahnya,
”Jadi lo TTM-an sama dia?”
”Nggak tahu deh gue itu namanya apa, tapi gue SMS-an terus sama dia.”
”Ajak dia ketemu aja. Daripada nggak jelas gitu.”
Mendengarnya aku semakin salah tingkah, aku tidak tahu siapa yang mereka bicarakan, tapi aku merasa akulah yang mereka bicarakan. Dan itu cukup membuat pulpenku terjatuh dari meja. Aku berusaha menenangkan diriku dan memungut pulpen itu cepat-cepat.
”Yah liat entar deh.”ucap Andro terakhir kali kudengar menanggapi temannya,
Siang itu juga aku mendapatkan SMS dari Andro, dia menanyakan alamatku dan berkata ingin datang menemuiku. Aku merasa dia sudah mencapai puncak penasarannya. Aku memang takut, tapi aku harus menemuinya, cepat atau lambat dia harus tahu siapa aku sebenarnya. Karena itu aku memberikan alamat kos-ku padanya yang pasti membuatnya bisa mengambil kesimpulan bahwa aku sekampus dengannya karena alamat kos-ku yang berada di areal sekitar kampus. Dia berkata besok akan menemuiku. Aku pun langsung harap-harap cemas. Aku ingin tampil sebaik mungkin ketika dia bertemu denganku besok. Karena itu aku meminta Maya menemaniku ke salon untuk mengubah potongan rambutku dan aku juga sempat ke mal untuk membeli baju baru.
Malam itu aku sedang makan malam di acara ulang tahun teman SMA-ku di suatu restoran ketika aku mendapatkan telepon dari nomor asing, sebuah nomor telepon rumah. Aku langsung keluar dari restoran dan mengangkatnya.
”Hallo,”
”Ini gue...” aku langsung terkejut, aku kenal suara itu.”...gue udah ada di depan kos lu, di wartel seberang, lu keluar sekarang deh.”
Aku langsung tak berdaya,”Tapi kamu bilang mau datang besok. Aku... aku nggak lagi di kos. Aku lagi ada acara.”
”Lu bukan mau menghindar kan?”
”Nggak, beneran aku lagi ada acara.” jantungku berdebar kencang.
”Kalo’ gitu, gue mau lo jawab pertanyaan gue. Nama lu siapa? Pokoknya gue pengen tahu tentang lu. Gue nggak mau udah nyampe ke kos lu, tapi nggak dapat hasil. Lu jawab sekarang.”
Aku menetralkan kegugupanku, aku merasa sudah saatnya dia tahu. Sebenarnya aku nggak ingin dengan cara seperti ini, aku ingin face to face dengannya. Tapi tampaknya Andro sudah sangat penasaran dan nada bicaranya sudah tidak bisa ditawar lagi.
”Oke... tapi kamu janji jangan marah ya? Please, jangan marah.”
”Iya, iya.”
”Aku... aku juniormu. Namaku Dara, angkatan 2001.”ucapku dengan perasaan seakan memasang taruhan yang cukup besar.
Diam sejenak di seberang. Kupejamkan mataku sambil berharap semua akan baik-baik saja antara aku dan dia.
”Oh, 2001 ternyata. Tapi lu yang mana? Lu sering bareng-bareng sama siapa?”
”Kamu... pasti nggak tahu kok. Aku nggak populer di kampus. Aku sering bareng sama Maya, tapi paling kamu juga nggak tahu.”
”Oh, gitu...”
”Maaf ya aku udah lancang ngegangguin seorang senior selama ini... Em, jadi gimana?”
”Gimana apanya?” ucapnya mengecewakanku. Bukan itu tanggapan yang aku harapkan.
”Maksudku, besok kamu jadi ke tempatku?”
”Ya liat entar deh. Ya udah ya.”
“Aku mohon jangan beritahu hal ini pada siapapun ya.”
“Iya. Gue mesti udahan nih. Dah,”
“Dah,”balasku merasa akan kehilangan waktu-waktu indahku bersama dia.

Dan memang benar, telepon itu adalah terakhir kali aku berhubungan dengannya. Keesokan harinya aku menunggunya dari pagi hingga malam dengan segala persiapanku, namun dia tak kunjung datang. Aku tidak berani bertanya padanya atau menghubunginya lagi. Sejak saat itu kami nggak pernah SMS-an lagi. Aku merasa sudah tahu alasannya. Aku tahu ini akan terjadi jika rahasiaku terungkap. Aku nggak tahu dia sudah tahu aku yang mana atau belum tapi kupikir dia sudah tahu, dan itu yang membuat dia tidak lagi menghubungiku. Dan jujur saja aku sangat merindukan malam-malam yang pernah kumiliki bersama Andro, meski hanya lewat media SMS. Aku pernah papasan dengannya di kampus, aku coba tersenyum padanya, tapi dia hanya balas tersenyum hambar dan berlalu begitu saja.
”Dasar pecundang! Pengecut!” Maya tak henti-hentinya mengumpat sikap Andro.
”Dia sudah tahu aku, May. Dia pasti tanya sama Edo dan Edo nunjukin aku yang mana. Pasti dia kecewa... karena... aku nggak secantik yang dia bayangkan. Kamu pernah baca SMS dia kan May, dia bayangin aku tuh indah banget. Tapi...”
”Hey, sudahlah! Kalo dia memang orangnya kayak gitu, berarti dia bego nggak bisa lihat keindahan yang lo punya, Ra. Believe me, Ra, u’re beautiful, lo jangan biarin tuh cowok bikin lo rendah diri kayak gini ya. Dia nggak pantes dapetin lo. U know what, u deserve to get a better guy than that jerk!”
Aku hanya tersenyum mendengarnya.”Thanks, May.”

Beberapa waktu kemudian, aku melihat Andro sering jalan bareng dengan seorang cewek, juniorku yang kemudian aku tahu kalau mereka sudah jadian. Jujur saja itu menyakitkanku walaupun aku memang bukan apa-apanya. Aku tidak pernah mendapat kejelasan dari Andro hingga saat aku dengar dia sudah lulus, padahal aku membutuhkannya. Aku hanya ingin tahu apa yang dipikirkannya mengenai semua ini, tentang aku dan dia.

Sebenarnya aku ingin sekali bertemu dan bicara sebentar dengannya saat pesta kelulusan di kampus. Tapi dia tidak pernah lepas dari pacarnya. Aku masih seperti dulu, hanya bisa memandang ketampanannya di balik kerumunan orang-orang. Dia memakai toga hari itu. Dan aku tahu ini bisa jadi saat terakhir aku melihatnya sebelum dia benar-benar kembali ke Jakarta. Tapi aku tidak punya keberanian untuk menunjukkan diriku di depannya. Akhirnya aku putuskan untuk membeli sekuntum bunga mawar yang biasa dijajakan tiap ada acara wisuda. Aku menuliskan ucapan selamat padanya dan aku minta tolong pada tukang parkir kampus untuk memberikannya pada Andro saat pacarnya tidak sedang di dekatnya. Aku melihat Andro menerima bunga itu dari kejauhan. Beberapa saat kemudian aku menerima SMS darinya.

Makasih ud pnh jd pnyemangat gw mpe gw bs lu2s, miss private number =)

Itu sudah cukup. Aku memang tidak punya kesempatan untuk bertemu berhadapan dengannya, atau mewujudkan mimpiku yang telah membuatku jatuh cinta padanya. Tapi SMS darinya sudah cukup buatku. Aku pernah punya kenangan indah yang mungkin tidak bisa dikatakan suatu kenangan menurut pandangan orang, karena hubungan kami hanya sebatas SMS. Mungkin aku memang bukan tipe ceweknya, tapi dia adalah standar tipe untukku menilai cowok lain. Aku memang hanyalah miss private number baginya. Dan aku masih akan selalu punya cinta buat dia. Buatku, selama aku mengenalnya, hadirnya adalah antara ada dan tiada. Seperti kukutip dari lagu milik UTOPIA. ”... walau ku tahu kau tak pernah anggapku ada... ku tak bisa menggapaimu, takkan pernah bisa... walau sudah letih aku tak mungkin lepas lagi... kau hanya mimpi bagiku, tak untuk jadi nyata... dan segala rasa buatmu harus padam dan berakhir...”

==THE END==

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Gthozy
Gthozy at Miss Private Number (10 years 23 weeks ago)

Asik..pengalaman hdup emang ngalir kalo ditulis

Writer Gthozy
Gthozy at Miss Private Number (10 years 23 weeks ago)
80

Asik..pengalaman hdup emang ngalir kalo ditulis

Writer you_know_who
you_know_who at Miss Private Number (11 years 45 weeks ago)
80

bkin trharu..thu ce uda cinta mati bgitu yaq..knapa gk ngng langsung sehhh..

Writer f_as_luki
f_as_luki at Miss Private Number (12 years 27 weeks ago)
70

cinta memang nggak harus memiliki kan?

dadun at Miss Private Number (12 years 37 weeks ago)
50

kayaknya ini terinspirasi dari pengalaman pribadi ya? gpp sih... mang pengalaman adalah guru yang paling berharga

Writer masihlugu
masihlugu at Miss Private Number (12 years 37 weeks ago)
50

Ini nyata gak sih??
Klo nyata... PICIK banget tuh pikiran si Andro.
"mneghilang begitu saja setelah tau siapa miss private sebenarnya"

Writer loushevaon7
loushevaon7 at Miss Private Number (12 years 37 weeks ago)
70

yg sudah terjadi takkan kembali, ambil indahnya, ambil hikmahnya.(iwan fals)

Writer marple
marple at Miss Private Number (12 years 37 weeks ago)
60

ceritanya mewakili banyak cewek indo yang malu2, ga pedean n hanya bisa berani lewat sms or dunia maya

Writer second_life
second_life at Miss Private Number (12 years 37 weeks ago)
70

tipikal ce indo yang malu2
gak kyk ce2 jepang.
tp tuh co tega amat yah??

Writer cat
cat at Miss Private Number (12 years 37 weeks ago)
70

Terus terang g kesel bgt ma tokoh utamanya ... kok kgk berani terus terang sih....
Kan akhirnya jadi begini ...