monolog dalam angkot

Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat. Seperti biasa aku segera bergegas pulang setelah sholat magrib bersama-sama dengan teman seperjuangan di sekretariat organisasiku. Baru saja tadi kami sibuk berdiskusi tentang banyaknya perbedaan paham-paham dan aliran-aliran Islam di Indonesia. Islam yang katanya satu ternyata banyak versi dan membingungkan pemeluknya harus mengikut yang mana,tapi juga membuat acuh tak acuh pemeluknya, pingin buat Islam sendiri katanya yang menurut dia benar. Sayang pertemuan itu harus segera kutinggalkan karena aku lebih takut kena damprat oleh ayahku, dari pada kerugian karena kebingungan yang belum terbayar dari hasil diskusi tadi.

Sebagai seorang aktivis feminis muslim, tentu saja aku sering memaki kepengucutanku ini. Aku benci ketika ayahku haru melarangku pulang malam karena aktivitas sosialku yang begitu sibuk dengan alasan klise, jelek dilihat tetangga, anak gadis pulang malam: “gak baik lo”, kesannya kayak perempuan (aku rasa gak perlu diteruskan). Keterbatasanku untuk menemukan apa yang aku mau, membuat aku terkadang merasa sangat merugi dilahirkan sebagai perempuan. Di keluargaku kami hanya satu lelaki dan perbedaan kebebasan yang diberikan sangat berbeda antara adikku yang laki-laki dengan aku yang perempuan.

Seandainya aku dilahirkan tidak sebagai perempuan atau seandainya ayahku memiliki pemahaman gender yang tinggi. Sayang ayahku sangat keras kepala dan posesif sehingga ucapanku tetang segala perkembangan gender dianggap angin lalu atau ucapan anak kecil yang sok tahu dunia.

Di luar Angkutan kota yang biasa di sapa Angkot oleh penduduk kota ini, hujan mulai turun, mungkin akan hujan lebat lagi. Angkot berhenti menuruti lampu merah yang berdiri kaku di simpang jalan pusat kota. Seperti biasa, tak lama kemudian anak-anak pengamen jalanan mencoba memanfaatkan menit-menit yang terluang dengan sebuah bait lagu yang tak pernah selesai. Kuperhatikan dua anak kecil belasan tahun menerobos jalanan mencoba berlindung di sisa atap angkutan kota salah seorang memgang gitar dan satunya lagi mengayun-ayunkan tutup botol yang telah dipipihkan dan disusun pada paku dan kayu. Sebagai pengiring lagu. Kami ini anak – anak jalanan… ah lagu itu hampir jadi lagu wajib anak pengamen di seluruh kota ini. Di beberapa angkutan kota lainnya terlihat juga para pengamen lainnya mengadu suara. Dengan rambut gondrong dan hiasan tatto palsu di bahunya, kepalanya diikat bandana yang sudah tak jelas lagi warnanya. Aku ingat ketika ketika suatu kali aku ke Yogja ketika mengikuti sebuah pertemuan mahasiswa tingkat nasional. Hampir di setiap persimpangan jalan ada pengamen dan bukan tidak jarang kalau bau mulutnya bau alkohol. Kalau sudah begitu aku akan pura-pura tidur jika bungkusan bon-bon itu diedarkan untuk meraup sereceh-dua receh. Dalam hatiku aku sangat dongkol dengan orang-orang seperti itu. Sudah hidup susah kok malah menyiksa diri. Sudah susah dapat uang kok malah dibuat untuk mabuk-mabukan atau bahkan judi.

Tapi kuberikan juga koin lima ratus rupiah untuk dua orang anak itu. Sungguh aku gak tega melihat mereka menahan dingin sambil menyanyikan lagu secuil itu. Dengan kondisi badan seperti itu aku yakin besok atau lusa mereka sakit dan mengeluarkan uang yang bisa jadi lebih banyak dari yang mereka hasilkan saat ini.

Secara materialistik kalau aku hitung-hitung alangkah mahalnya lagu yang mereka nyanyikan ini. Dengan sepotong lagu yang tidak pernah selesai dalam waktu yang singkat dan suara yang pas-pasan. Alangkah mahalnya uang yang harus kukeluarkan untuk jasa mereka apalagi kalau mereka bernyanyi saat penumpang tidak ingin mendengar lagu atau lagu itu bukan lagu yang diinginkan penumpang. Bukankah itu namanya penzaliman penumpang.

Aku jadi tersenyum sendiri karena pemikiranku yang satu ini. Mungkinkah karana aku terlalu banyak baca buku kapitalisme. Sehinga cenderung materialistik.
Angkot pun melaju dan kali ini melewati halte bus dan berhenti sebentar mengambil penumpang. Dua orang manusia berlainan jenis naik ke dalam bus kota. Dari kebiasaan ku menebak umur orang pasti kedua anak muda ini masih belasan tahun sama dengan usia para pengamen jalanan tadi. Tampaknya mereka berdua baru saja nonton dari bioskop tak jauh dari halte itu. Perbincangannya begitu semangat dari kisah cinta si pemain film dan adegan action dan percintaan yang bla-bla bla. Kuperhatikan kedua mahluk itu dengan salah satu tangan memegang tangan lawan jenisnya tidak diragukan kalau mereka adalah sepasang kekasih. Karena kalau sudah menikah, pasti lebih menjaga (atau bosan?..entahlah).

Kembali kepalaku sakit lagi. Sementara disisi lain anak seusia mereka harus mengamen di hari hujan demi mendapat sereceh uang yang itupun tidak di sukuri olehnya dengan bermain judi ngelem atau beli minuman keras sedangkan kedua anak ini di depan mataku ini cenderung hedonis. Hidup demi gemerlap sejenak bercinta-cintaan tanpa tujuan yang jelas., apa sih yang mereka cari di dalam hidup .Seolah hidup hanya untuk merasakan apa yang namanya senang-senang tidak perduli yang lain senang atau tidak yang penting aku senang. Oya aku teringat sebuah buku yang pernah aku bawa tentang ideologi. Betapa manusia itu akan hidup jika mereka punya ideologi. Ideologi yang menjadi penggerak utama. Untuk jadi lebih berarti dalam hidup. Lalu apakah ideologi mereka. Hidup, makan punya kekasih yang cantik menikah punya anak yang cantik dan ganteng lalu mati di tempat tidur dan kemudian beberapa puluh tahun kemudian tidak ada yang tahu makam siapa tempat ia dimakamkan.. dan perkembangan kita pun memaksa makam itu untuk ditimpa dengan makam lain.

Pernahkah kedua mahluk itu berfikir sampai disitu. Pernahkah kedua mahluk itu mimikirkan agar surga yang mereka rasakan saat itu juga dirasakan oleh mansuia lainnya.

Seandainya ….

“Bang pinggir di depan bang!”.

Dan Angkot ku pun sampai di persimpangan jalan menuju rumahku. Kepalaku kian sakit dan ingin segera pulang untuk memuntahkan semuanya dalam tulisan. Semoga ada teman yang juga sedang sakit kepalanya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer miss worm
miss worm at monolog dalam angkot (12 years 6 weeks ago)
80

gaya bahasamu juga cukup luwes ^^ tinggal kasih jarak untuk paragraf aja. sip deh

keep writing

Writer julie
julie at monolog dalam angkot (12 years 24 weeks ago)
60

itulah ralitas kehidupan dikota besar. orang bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan uang.

tapi Raie buat aku cerita ini ya kok agak monoton dan juga seperti kata Splinter spasinya tolong diatur biar pembaca tidak cepat lelah membaca tulisannya

Writer loushevaon7
loushevaon7 at monolog dalam angkot (12 years 24 weeks ago)
70

tulisannya asyik, tapi kalo misalnya dimuat di koran/majalah mungkin sbg esai, bukan cerpen.

Writer imr_aja
imr_aja at monolog dalam angkot (12 years 25 weeks ago)
80

satu cara pandang yang menarik. Enak juga dibaca, sayang gue lagi puyeng dengan "Fakta".

Writer ima_29
ima_29 at monolog dalam angkot (12 years 25 weeks ago)
70

Kepala ku juga sakit ketika ada pengamen yang bau alkohol melintas di depan mataku. Apalagi ibu2 dengan anak di dekapannya, ngamen menyanyi lagu yang ga jelas. Blum lagi pria2 aneh yang suka minta uang dan ngaku2 kalau dirinya baru keluar dari penjara karena membunuh orang. ARGGHHH!! Menyebalkan dan bikin pusing memang

Good job!

Writer splinters
splinters at monolog dalam angkot (12 years 25 weeks ago)
80

isu yang menarik buat diangkat :) kalo boleh saran, paragrafnya dikasih spasi deh, biar yang bacanya pada lebih nyaman :) kan kenyamanan pembaca adalah segalanya bagi seorang penulis :) hehehe udah bagus kok raie, tinggal diluwesin dikit lagi penulisannya, pasti jadi tambah keren!!!