Hujan Pagi Hari

Dari kuas hati yang merindu

Sendok perak itu beradu dengan dinding gelas keramik, mengeluarkan bunyi saat membantu melarutkan bubuk kopi dalam selarut air. Saya tidak pernah memperhatikan sebelumnya. Hingga sebulan lalu. Sejak itu suara-suara pagi hari terdengar jelas di telinga. Suara tukang sayur yang lewat di depan rumah, nyanyian burung peliharaan tetangga sebelah, suara hujan, dering telepon dari Ibu, juga suara berita pagi dari televisi. Mengganggu, tapi saya biarkan.

Sendok itu saya lempar, beradu kembali dengan tumpukan piring kotor sisa semalam. Sementara itu saya letakkan gelas kopi yang baru saya seruput sedikit di atas meja, dan saya beranjak ke kamar mandi. Ini hari senin. Saya sudah nyaris terlambat menuju kantor, dan saya malah belum mandi.

kutoreh lembut tinta putih berbentuk awan dalam kanvas langit biru

“Hujan, lihat kamu basah!”

Dan kamu tertawa, “tadi deras sekali,” jawabmu santai. Padahal kamu bisa saja jadi sakit, mengingat baru dua hari lalu kamu keluar dari rumah sakit akibat paru-paru sialanmu itu.

Saya beri handuk berukuran besar untuk membungkus tubuhmu, dan saya bantu mengeringkan rambutmu yang kuyup. Kamu hanya tersenyum membiarkan saya mengacak-acak rambutmu. Lalu mencium saya.

Suara guyuran air dari shower ini selalu mengingatkan saya akan hari itu, hari di mana kamu tiba dengan basah kuyup, hari di mana kita bercinta untuk terakhir kali.

Seharusnya saya sudah berada di kantor setengah jam yang lalu. Tapi saya masih di kamar mandi terbalut handuk. Jemari saya sudah keriput, badan sedikit menggigil karena dingin. Saya tidak peduli, justru menikmatinya. Dalam seumur hidup saya, mungkin ini adalah saat terlama saya menghabiskan waktu untuk mandi pagi.

Dan semua ini karena kamu. Saya tertawa, pelan dan kemudian terbahak-bahak. Untung saya hidup terpisah dari Ibu. Karena kalau tidak, Ibu akan ketakutan melihat anak perempuannya tiba-tiba menjadi gila, tertawa sendirian.

Ya, Hujan, saya mencoba menyalahkan kamu untuk setiap derita saya. Atau mungkin, ini hanya pengaruh cuaca dingin sepanjang pagi ini karena hujan turun tidak berhenti sejak semalam. Dan hal itu ternyata mempengaruhi suasana hati saya yang seharusnya sudah membaik.

Ternyata rinaimu masih membekas dalam saya. Tidak mudah membuatmu menghilang, ya, Hujan?

sambil menatap langit aku bertanya pada bunyi dalam sunyi

Kopi yang saya buat tadi mulai kehilangan kepulan uapnya. Dan ternyata hujan juga sudah berhenti. Saya buka jendela ruang makan yang menghadap ke halaman samping, dan bau hujan segera menyerbu masuk ke dalam. Segar dan mengingatkan akan kamu di hari itu.

“Ah, gombal!” sungut saya bercanda saat kamu melancarkan rayuanmu lagi. Dan kamu tertawa sambil mencium saya.

“Aku serius, aku tidak akan pergi darimu.”

Tapi lalu kamu pergi tepat dua minggu setelah ucapanmu itu. Jadi, di mana letak keseriusanmu, Hujan?

Kopi itu sudah dingin. Saya tidak suka kopi yang dingin. Saya tinggalkan gelas itu begitu saja dan pergi keluar dari rumah. Menuju kantor. Saya pasti kena marah lagi karena terlambat. Saya tidak peduli, dimarahi, dipecat, terserah saja. Saya tidak peduli, seperti kamu yang tidak peduli telah meninggalkan saya sendiri di sini.

Saya berhenti sejenak di depan pagar. Membalas sapaan ibu tetangga sebelah yang tak berhenti menepuk pundak saya sambil terus berkata, “syukurlah, kamu sudah tidak apa-apa. Yang semangat, ya? main saja ke rumah kalau sedang ingin ngobrol.” Saya ingin berkata kalau saya akan lebih baik kalau burung peliharaan Ibu disingkirkan agar tidak berisik setiap pagi. Tapi itu terlalu menyinggung perasaan, padahal dia hanya ingin menunjukkan perhatian pada saya. Jadi saya hanya mengucapkan terima kasih dan mengangguk untuk setiap ajakannya.

Sebulir air jatuh menepuk pipi kanan. Saya mendongak. Langit diam membisu, sesekali meneteskan sisa-sisa hujannya.

Lalu saya melihat kamu di sana. Tersenyum dan berkata, “aku tidak akan pergi darimu.”

Dan untuk pertama kalinya sejak kamu pergi, saya menangis.

mengapa kulukis wajahnya lagi?

--ende--

-----------------------------------

Kalimat bergaris miring adalah puisi milik My Bro :D

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Johan_Liebert
Johan_Liebert at Hujan Pagi Hari (11 years 5 days ago)
40

Kenapa Hujan harus disalahkan? Tidak ada yang lebih indah di dunia selain hujan. suara rintiknya menimbulkan suasana tenang.

Writer hujaniaku
hujaniaku at Hujan Pagi Hari (11 years 4 weeks ago)
90

i love it... bgus bgt.. kamu and ur bro sama-sama puitis ya, hohohoh...
salam kenal..

Writer Kata Halim
Kata Halim at Hujan Pagi Hari (11 years 47 weeks ago)
50

dahsyat boss

ajarin..

Writer dian k
dian k at Hujan Pagi Hari (11 years 47 weeks ago)
90

fortherose, this is very sweet..

dadun at Hujan Pagi Hari (11 years 48 weeks ago)
90

merinding.... dingin....

Writer mtop_fikur
mtop_fikur at Hujan Pagi Hari (12 years 6 days ago)
50

sangat menjiwai,pernah ikut kontesya,tingkatkan manis em...ah

Writer -riNa-
-riNa- at Hujan Pagi Hari (12 years 1 week ago)
90

Terharu bacanya. Apalagi ditambah dengan selipan kata-kata puisi, bikin jadi tambah terhanyut.

Writer FrenZy
FrenZy at Hujan Pagi Hari (12 years 1 week ago)
80

romantis suasana dan susuan kalimatnya!

akhir-akhir ini Ayu agak melankolis dengan hujan (diliat dr blog dan puisinya hehehe).

Cuma satu komen terakhirku mengenai cerita ini, ada beberapa section yang kayaknya kurang relevan. bagiku tambahan cerita mengenai Ibu, misalnya: "Untung saya hidup terpisah dari Ibu. Karena kalau tidak...." Menurutku bagian itu memecah perhatian.

Hiks, ceritanya sedih. Tapi aku suka.

Writer yunieta
yunieta at Hujan Pagi Hari (12 years 1 week ago)
80

Susunan kata dan idenya luar biasa...
Manis....

Writer bellabelle
bellabelle at Hujan Pagi Hari (12 years 1 week ago)
80

jadi kaya baca novelnya Sitta Karina berjudul "Lukisan Pelangi"

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Hujan Pagi Hari (12 years 1 week ago)
90

Cerita-cerita Rose selalu diawali dengan sesuatu yang lazim, misalnya orang yg membuat kopi, tapi diceritakan dengan takzim, sehingga dari segi pembaca lebih enak.

Boleh juga nich, cerita ber-ide dari puisi. EYDnya rapih. Oke buanget nget nget nget.

Writer sefry_chairil
sefry_chairil at Hujan Pagi Hari (12 years 1 week ago)
80

cantik!
aku begitu mencintai hujan..
heuheu.. :)
*jadi kangen menulis si Fandy.. hoo.. :D

Kalau kata Rere terdapat pemenggalan kata yang salah, menurutku tidak juga kok, Yu (Bayu dan Ayu).
Dalam kalimat yang dituturkan tersebut subjek bisa lesapkan atau menggunakan kalimat inversi (terbalik) pun tetap cantik tuturannya. Hehehe..

Pokoknya siip.. :D

Mampir yuuk:
PADA SATU BINTANG

Writer miss worm
miss worm at Hujan Pagi Hari (12 years 1 week ago)
80

uhuuu T_T cantiks dan indah dan lembut seperti embun, Yuw

Writer my bro
my bro at Hujan Pagi Hari (12 years 1 week ago)
100

thanks yu! keren uey ^_^

Writer bintang alzeyra
bintang alzeyra at Hujan Pagi Hari (12 years 1 week ago)
70

iye si abang satu ini, suka liat suasana waktu nulis puisi, trus nyambung ke cerita...tapi bete dech kolabnya kaga usah aja..huh!! *ngambek mode on
Penggunaan tanda baca pada pemenggalan kata masih kacau tuh :p..hayo diperiksa lagi