Mengeranglah............!

MENGERANGLAH!

Beri aku erangan, hai perempuan!
Erangan yang benar-benar mengerang...!
Kan kunikamati, sungguh, tiap-tiap keringatmu, tiap-tiap air mata dan darahmu!

Satu hari di antara rentetan hariku.
Plak! Aku ditamparnya.
Tapi aku tak menangis, meski seragam merah putih lusuhku seperti mewajarkan untuk itu. Ya, aku tak mau menangis lagi, cukup sudah. Saatnya aku mengapal untuk tiap-tiap hajarannya.
Plak! Aku ditamparnya lagi.
Aku membuatnya geram saat yang ia dapati dariku bukan seperti hari-hari kemarin, kemarin dan kemarinnya. Hari itu yang ia dapati adalah nanar mata kebencianku yang sengaja kuberadukan dengan sorot murkanya, seperti menantang.
“Pukul lagi!”, batinku.
Plak! Aku masih ditamparnya.
Tamparannya yang ketiga benar-benar membuatku tersungkur ke lantai. Bibirku pecah. Berdarah. Asin. Tapi aku tak menangis.
Ia mencengkeram kerah bajuku, berdirikanku dengan paksa, kemudian membisikkan gertakannya di kupingku.
“Kalau berani adukan pada siapapun, ku bunuh kau!”
Ia menepuk pipiku, lepaskan cengkeramnya, kemudian berlalu sembari membetulkan celana kolornya.

Bagus!
Datang saja sepuluh tahun lagi jika kau masih berhasrat jejalkan busukmu padaku. Sepuluh tahun lagi, saat aku tak sekedar mampu menusukmu dengan tatapanku.

Ya, tidak jadi. Ia tidak jadi berbuat itu. Kali ini bapakku tidak jadi menyodomiku.
***
Satu hari di antara rentetan hariku.
Aku lari, lari dan lari. Aku minggat!
Peduli setan minggatku tanpa persiapan. Tak ada yang ku tenteng, Cuma selembar seragam merah putih yang melekat di tubuhku dan sekeping receh seratusan perak di saku celanaku.
Pada hari itu sebelum minggatku, “Kamu itu kenapa, Le, kok jadi sering murung. Sedikit-sedikit ngelamun, sedikit-sedikit ngelamun. Mikirin apa, sih? Kecil-kecil, kok, sudah seperti banyak mikir, kayak pejabat saja”, emak mengawali percakapan.
Aku diam. Aku lapar. Aku ambil saja sepiring makanan demi mendiamkan naga-naga diperutku.
“Berantem sama temen?”
Aku masih diam.
“Di marahi guru?”
Aku tetap diam.
“Di pukul bapakmu lagi?”
Aku meliriknya. Emak melirikku.
“Hm… bapakmu memang keras, Le. Tapi sebenarnya hatinya baik. Kalau selama ini ia sering menghajarmu, itu karena ia pingin kamu nurut, nggak bandel. Bapakmu itu pingin kamu jadi orang bener.”
Terngiang jelas aku atas kata-kata Emak tentang ini.
“Apanya yang baik, apanya yang nurut!” protesku.
“Tuh, kan. Di tanya baik-baik malah diem, tapi kalau lagi dibilangin orang tua malah ngeyel, lho.” timpal Emak
“Bapak masih saja sering mukulin Emak, padahal Emak sudah nurut di suruh-suruh ini itu sama Bapak. Emak kok, mau saja di pukul-pukul Bapak?”
“Sudah-sudah, makan saja lagi, jangan pake ngomong kalau cuma ngeyel.”
“Bapak memang orang gila. Jahat!”
“Hush! Sudah, makannya jangan pake ngomong. Pokokmen bapakmu itu sebenernya baik. Kalau dia mukul, itu demi kebaikan kita juga, agar kita jadi orang baik, agar kamu bisa jadi orang hebat nantinya. Makanya sekolah yang bener, biar jadi orang pinter, biar bisa punya kerjaan bagus, kantoran, nggak cuma jadi kuli bangunan kayak bapakmu itu. Nantinya cari istri yang kantoran juga, nggak kayak Emak yang bisanya cuma keliling nyuciin baju tetangga. Sudah meres keringat seharian, capek, tetap saja duwitnya seret. Kalaupun ada, duwit seimprit itu selalu saja buat bayar utang kiri kanan.”
Bla… bla… bla… masih panjang rentetan ocehannya, sambung-menyambung, selalu saja begitu. Emak malah seperti curhat, seperti tengah meratapi nasibnya sendiri.
“Mak.”
“Sudah, dengerin saja kalau lagi dibilangin orang tua.”
Prang! Tanganku tak sengaja menyenggol piring. Pecah.
“Le… Le… beresin sendiri tuh piring.”
“Nggak mau!”
“Kamu ini. Emak kan, lagi nyeterika baju bapakmu”.
“Siapa suruh mau!”
“Gimana-gimana bapakmu yo tetep bapakmu, bapak kandungmu. Kamu musti menghormatinya, menghargainya, ngajeni. Baik-baiklah sama bapakmu. Bapakmu itu yang kasi kita makan sekeluarga. Mungkin setelah seharian kerja, pulang-pulang rumah bapakmu sudah capek, trus kamunya bandel, jadi bapakmu sering kesal sama kamu.”
“Baik-baik sama Bapak? Cuih!” cibirku seraya beranjak ngeloyor kearah pintu.
Timpal-timpalan. Terus, terus dan terus. Lama-lama Emak seperti semakin membela Bapak. Setahu apa, sih, Emak tentang Bapak. Bukannya berdiri dipihakku, malah semakin menyalahkanku. Selalu saja begitu. Aku muak!
“Jangan kemana-mana kalau lagi dibilangin,” kata Emak.
“Biarin!” Aku tetap ngeloyor. Tapi Emak segera menangkap tanganku, menarikku dan mendudukkanku di kursi seperti semula. Kasar.
“Nggak mau!” protesku, berontakku menyingkirkan tangannya dariku. Kemudian aku berdiri, bermaksud ngeloyor kearah pintu lagi. Lagi-lagi Emak segera menangkap tanganku. Ku kibaskan tangannya. Emak menangkap tanganku lagi. Kali ini ia menamparku.
Pipiku panas.
Panasnya tak sepanas tamparan Bapak. Tapi gemuruh di dadaku seperti melebihi apapun. Aku merasa dikhianati Emak, sebagaimana Bapak yang sudah mengkhianatiku. Aku pun lari, lari dan lari. Aku minggat! Ku putuskan untuk tak kembali.

“Le!” sayup-sayup terdengar Emak berteriak.

***
Satu hari di antara rentetan hariku.
Perempuan itu meremas rambutku. Ku balas meremas rambutnya. Ia mendesah. Aku menikmati.
Perempuan itu mencengkeram dadaku. Ku balas mencengkeram dadanya. Ia lebih mendesah. Aku lebih menikmati.
Perempuan itu menggigitku. Ku balas menggigitnya. Desahannya berubah jadi erangan. Aku sangat menikmati.
Makin kuat. Makin sakit. Makin aku menikmati. Makin larut.
Larut…
Larut…
Larut dalam riuh tangisan, erangan dan permohonannya. Tak berdaya!
Sekilas tak jelas, tiba-tiba aku seperti menemukan romantisme tangisanku, eranganku, permohonanku pada Bapak, dulu.
Lagi, sekilas tak jelas, tiba-tiba aku seperti menemukan romantisme tangisan Emak, erangan Emak, permohonan Emak pada Bapak, dulu, saat aku sangat amat sering mendengarnya dari balik kamarku.

Ayo bangkit hai jiwa-jiwa tertindas!
Aku membencimu saat kau tak mampu berbuat sesuatu, hanya meratap, menghiba, percuma!

Aku menyakitimu untuk menyeretmu pada satu titik.
Titik dimana kau akan merasa bahwa kau bukan apa-apa, bukan siapa-siapa.
Titik dimana kau akan sangat merasa sendiri, sepi.
Titik dimana hanya ada kau saja diantara kekuatan-kekuatan yang menghimpit, menjepit, mengoyak bebal-bebalnya indera.

Anomali! Anomali! Anomali!
Tanggalkan alam sadarmu.
Tanggalkan otak kacangmu.
Rasakan nikmatnya luka.

Aku menyakitimu untuk tempatkanmu pada titik nadir, titik tolak geliat,
tak hanya sekedar mengepal, tapi juga hantamkan tinju-tinjumu.
Bangun! Bebaskan dirimu! Ayo berontak! Balas aku!
Beri aku sakit sebagaimana telah ku beri kau sakit!

Ada lebam! Ada darah! Ada pergolakan! Orgasme!
Pertama kali, persetubuhan nyataku dengan perempuanku, perempuan penjaja cinta yang kedinginan, hingga merengek padaku, merayu untuk tak perlu ku bayar.

Satu hari di antara rentetan hariku.
Supir truk, aku kini.
Tidak!
Pemburu aku kini. Pemburu romantisme masa lalu.

Beri aku erangan, hai perempuan!
Erangan yang benar-benar mengerang...!
Kan kunikamati, sungguh, tiap-tiap keringatmu, tiap-tiap air mata dan darahmu!
?@@@?

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer snap
snap at Mengeranglah............! (11 years 22 weeks ago)
90

saiya mengerang untukmu. saluut!!

Writer amelia07
amelia07 at Mengeranglah............! (12 years 21 weeks ago)
90

hai sakit, gw suka ma karya elo. ajarin gw donk biar sakit kayak lho.

Writer ima_29
ima_29 at Mengeranglah............! (12 years 22 weeks ago)
80

Id serem! Tipe cerita lebih serem lagi! Gw jadi takuuuut....Hihihihi

Tapi gw pengen berpenyakitan kaya' lo begini. Bisa bikin cerita Sakit!! sumpah Sakit!

Writer mey
mey at Mengeranglah............! (12 years 23 weeks ago)
80

baGus tuH ,,,

suKa, banGeT !!

[aku benci bapaknya]

Writer the666
the666 at Mengeranglah............! (12 years 23 weeks ago)
90

setuju ama gheta. cuma orang sakit yg bisa bikin cerita sesakit ini. dan cuma orang sakit yg bisa bilang ini keren. tapi juga cuma orang sakit yg bisa bikin cerita sebagus ini. salut...

(=

ps: hey... gwa suka gaya lo. hehe. *basiiiiii!!!*

Writer imr_aja
imr_aja at Mengeranglah............! (12 years 23 weeks ago)
70

gue ikut mengerang

Writer unak unik
unak unik at Mengeranglah............! (12 years 24 weeks ago)
80

nice. kalimat pendek-pendek yang kamu bikin membuat emosinya nyata. aku suka cara kamu bercerita dan mendeskripsikan segalanya dengan kalimat pendek dan singkat.

ditunggu postingan laennya

Writer KD
KD at Mengeranglah............! (12 years 24 weeks ago)
100

eksperimentasi(8), kosakata(5), kedalaman(6), alur(9), piutang KD(3)
***************************
kategori: LEVIATHAN

Writer gheta
gheta at Mengeranglah............! (12 years 24 weeks ago)
60

judulnya bikin takut baca..
tapi setelah aku baca. aku jadi ingat pernah baca cerita model begini.. sakit... ini orang sakit...!

Writer w1tch
w1tch at Mengeranglah............! (12 years 24 weeks ago)
70

aku nggak begitu ngerti, mungkin karena terlalu takut untuk baca (ini kekerasan seksual atau kekerasan yang bersifat seksual), bahasamu tajam.
Sadism n Masochism ya?

Writer sinten remen
sinten remen at Mengeranglah............! (12 years 24 weeks ago)
100

Ni cerpen kayak karya2 djenar maesa ayu.
4 jempol buat lo. Ceritanya hidup banget.
SERU.
Menceritakan tentang pelampiasan dendam, tapi ga bikin kita marah karena tau alasannya.
Gw tunggu karya lo berikutnya