CINTA YANG TERBAGI

Suamiku selalu menyapaku dengan panggilan “Mama sayang…” Tak peduli dimana pun, dalam keadaan apa pun. Di depan orang banyak yang terkesima mendengar tutur katanya, di bawah sorot terang lampu kamera yang merekam gambar kami dan menayangkannya ke seantero Nusantara. Sikap kasihnya padaku tak tersembunyi. Tangannya kerap melingkari pundakku dengan sorot mata lembutnya yang seakan mampu menelanjangi seluruh hatiku. Aku bisa melihat lewat kedalaman matanya yang terlindung lensa kacamata itu, ada telaga cinta di sana. Permukaan air di telaga mata suamiku begitu teduh, begitu menawarkan kedamaian yang setiap saat selalu ingin kureguk.
Aku tahu, ia begitu mencintaiku.

Cinta…ah, betapa tentang itu menumbuhkan satu arti bagiku. Hidupku ialah cinta. Cinta pada suamiku. Pada anak-anak kami, Bayu dan Asri, yang lahir dari buah cinta kami berdua. Yang tercipta saat kami bercinta di malam-malam indah yang menjadi saksi bisu betapa dalamnya ikatan kasih antara aku dan suamiku.

Memang, suamiku sayang bukanlah berasal dari keluarga kaya raya yang mampu membangun istana hanya dengan menjentikkan ujung jari. Namun, sesuatu dalam dirinya menambah-nambah rasa kagumku pada lelaki yang mempunyai senyum manis menawan itu. Yang membuat jantungku rontok hanya beberapa saat setelah perkenalan kami dulu.

Suamiku sayang rela menembus badai. Rela memasang badan menghadapi keluarga besarku yang mempunyai rumah bak istana itu, demi memperoleh wanita yang dicintainya. Itulah yang membuatku jatuh hati untuk kedua kali padanya.
Kedua orang tuaku pun mengangkat topi atas sikap ksatrianya. Menyerahkan segala keputusan pada diriku.

Lalu menikahlah kami…
Aku teringat tahun-tahun pertama pernikahan kami.
Jika ada orang yang mengalami susahnya mengais kehidupan di kota besar, kami telah melampauinya. Penghasilan suamiku sebagai penulis tak mencukupi bahkan hanya untuk membuat dapur tetap mengasap. Hampir-hampir ia putus asa menghadapi serangan badai kekejaman kota besar yang tak mengenal kata manusiawi.

“Mama sayang, rasanya usahaku sudah habis-habisan, tapi tak ada jalan yang mulus.” Katanya dengan raut wajah murung.
Oh, hatiku terasa begitu teriris melihatnya bermuram durja.

“Sabarlah, Papa sayang... Setiap usaha pasti akan membuahkan hasil…” Tanganku merangkulnya, membelainya, memberikan kekuatan baginya.

Suamiku sayang kembali bangkit.
Waktu demi waktu terus bergulir. Kini suamiku menjadi orang sukses. Kariernya meningkat dari waktu ke waktu. Buku-bukunya laris dan selalu tercetak ulang hingga cetakan belasan. Penggemar pun datang mengerubunginya bagai semut-semut menghampiri manisnya gula pasir. Pria, wanita, muda, tua, penggemarnya berasal dari segala lapisan. Suamiku seorang penulis kehidupan, yang kisah-kisah buah tangannya tak lekang dimakan usia, juga tak mengenal batasan usia. Tulisan-tulisannya bagai embun yang menyejukkan setiap hati orang yang membacanya. Bagai kotbah yang tertuang dalam bentuk tulisan. Padat, penuh makna, dan memberikan kepenuhan hati.

Dia bahagia. Aku bahagia. Perasaan cinta kami makin mendalam. Dalam setiap kegiatan launching buku-bukunya yang senantiasa diliput oleh berbagai media massa itu, ia kerap membawaku di sisinya.

“Istriku sungguh luar biasa.” Tuturnya kepada pers. “Tanpa dia, aku bukanlah apa-apa. Dia yang memberiku semangat untuk mencapai cita-citaku.”

Ia memujaku setinggi langit di hadapan dunia. Betapa berbunga-bunga nya hati ini. Ah, cintaku. Tanpa itu pun kasih di hatiku tak akan memudar…

Jika ada pasangan yang pernah mengalami manisnya hidup perkawinan, kami telah melaluinya. Tahun-tahun yang bergulir bagai berlapis madu cinta, semanis perlakuan suamiku terhadapku dan anak-anak kami yang telah tumbuh remaja kini.
Segalanya serba sempurna…

Tapi, adakah kesempurnaan di dalam dunia ini? Adakah keabadian ditemukan di bumi? Sejalan dengan umur yang terus bertambah, kulit yang mulai mengendur, dan rambut yang mulai ditumbuhi uban satu-satu, kebahagiaan itu pun perlahan memudar…

Di Sabtu pagi yang cerah, secerah wajah suamiku yang baru saja kuhantar ke pintu gerbang, teriring sebuah sentuhan manisnya di pipiku, petir itu pun tiba-tiba menggelegar di telingaku.

Wanita berparas cantik itu duduk di hadapanku dengan rambut panjang terurai. Usianya jauh lebih muda dari diriku. Walau tubuhnya hanya berbalut rok panjang sederhana dan kemeja longgar yang sizenya pastilah bukan ukurannya, aku masih bisa melihat keindahan tubuh di baliknya. Namun, mata indahnya itu menyiratkan kesenduan dan tampak menyimpan beban mendalam.

Ia terdiam sejenak. Matanya ragu-ragu menatapku. Hatiku mulai gelisah. Naluri perempuanku mulai meraba sesuatu. Sesuatu yang mengerikan. Aku menunggu…

“Maafkan saya karena mencintai suami Mbak…Kami sudah lama saling mencintai, Mbak…” kata-katanya membuat jantungku bagai terpelanting di dalam dadaku. Apa aku tak salah dengar?

“Saya ingin Mbak mengetahuinya lebih dulu, dari mulut saya sendiri…Saya…saya tak tahan menyimpan rahasia ini lebih lama lagi…Ijinkan kami saling mencintai, Mbak…” tuturnya lagi dengan air mata yang berderai.

Wajahku terpaku menatapnya. Aku ingin menangis, tapi wanita di hadapanku telah mendahuluinya dengan genangan air mata. Aku ingin tersengguk, tapi dadaku terasa sesak. Aku berharap dalam keputusasaan…seandainya saat ini, laki-laki yang diceritakan wanita anggun di hadapanku ini bukanlah suamiku…

Ucapan wanita itu selanjutnya tak lagi punya makna bagiku. Aku terdiam, terpaku. Dan tak juga mengatakan sepatah kata hingga perempuan itu pamit dari hadapanku diiringi untaian kata maaf yang bertubi-tubi…

Ketika wanita itu berlalu dari hadapanku, aku tak kuasa menahan diri lagi. Bendungan air mata ku pun jebol. Ketegaran yang membungkusku tadi pecah berkeping-keping bagai serpihan cermin retak. Berulang kali kujepit keras-keras kulit tanganku, berharap syarafku mati rasa. Inginnya aku tiba-tiba terhenyak, bahwa kejadian barusan hanyalah mimpi.

Tapi, kulitku merasakan sakit. Hatiku lebih lagi. Aku terhenyak saat menyadari ini semua bukanlah mimpi!

Suamiku baru pulang menjelang malam menggelap. Sehabis Seminar Penulisan, begitu jelasnya. Begitu pula yang tertera di agenda kerjanya yang terbuka lebar di meja kerja. Seingatku, ia tak pernah menyimpan rahasia. Setahuku ia tak pernah tidak setia. Tapi mengapa semua jadi begini akhirnya?

Aku memperhatikannya membuka sepatu dan kaos kakinya. Mengganti baju kerjanya dengan kaos santai dan boxer coklat muda. Lalu ia memanggilku duduk di sisinya. “Mama sayang, kemarilah…” Ia merangkulku dengan manisnya. Tak ada suatu sikap pun yang berubah dalam dirinya.

Oh, Tuhan! Aku tak tahan lagi dengan sandiwaranya itu!
Untuk pertama kali dalam sejarah, kutepis tangannya yang hinggap di pundakku. Tangan yang kuyakin juga memeluk wanita cantik yang mendatangiku tadi siang.

Ia terperanjat. “Ada apa Ma?” tanyanya.
“Kenapa Papa tega mengkhiananti Mama selama ini?” tanyaku dengan bibir bergetar.

“Maksud Mama?”

“Sudahlah, Pa. Jangan berpura-pura lagi. Aku telah mengetahui semuanya, dari bibir wanita itu sendiri.”

Wajah suamiku mendadak pucat. Senyumnya menguap di udara yang sesak meski dalam suhu 25 derajat Celcius. Seketika harapanku memudar. Aku berharap, suamiku akan mengelak, dan menuduhku mengada-ada. Menanyakan siapa wanita yang berani-beraninya memnghembuskan fitnah yang tak berlandaskan fakta. Menganggapnya penggemar yang hanya tergila-gila padanya dan terobsesi pada popularitas dirinya. Bukankah banyak kenyataan seperti itu yang terjadi?

Namun, kata-kata seperti itu tak terucap dari bibirnya. Ia hanya diam saja dengan wajah membeku, seperti maling tertangkap basah. Kesabaranku mulai terkikis.

Darahku mulai mendidih.
“Apa kamu mencintainya, Pa? Apa --kamu ingin --menceraikanku?” tanyaku berapi-api. Sesengguk tangisku tak bisa kupendam lagi. Menyeruak keluar diantara suara yang terbata-bata.

Suamiku terdiam. Keningnya membentuk lipatan-lipatan yang nampak jika ia sedang berpikir keras. Selama beberapa saat tatapan matanya kelihatan menerawang, menembus dimensi lain yang tak bisa kujangkau. Lamat-lamat telingaku mendengar suaranya berujar.

“Aku kasihan terhadapnya, Ma. Suaminya, anak buahku, meninggal setahun lalu dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Saat itu ia baru saja melahirkan seorang bayi. Aku merasa bersalah terhadapnya, Ma…”

“Jadi, rasa bersalah itu yang mendorongmu bercinta dengannya?” tandasku, tak habis pikir dengan penjelasannya. Kata-kataku yang cukup pedas itu membuatnya mendongak.

“Jangan salah sangka begitu Ma. Aku benar-benar kasihan padanya. Ia memohon belas kasihan dariku. Ya, ia memang mencintaiku, dan tak bisa hidup tanpaku. Berkali-kali ia mencoba melakukan bunuh diri jika aku memutuskan hubungan dengannya. Ia begitu rapuh, Ma. Aku tak ingin salah langkah dengan membiarkan ia meninggal akibat kesalahanku.”

Aku terdiam, berusaha mencerna dalam kegalauanku. Mencoba mencari kebenaran dalam setiap kata-kata yang diucapkan suamiku. Wanita itu rapuh, begitu katanya. Lalu, bagaimana denganku? Apakah suamiku pikir aku wanita tegar yang hatinya terbuat dari baja sehingga tak mengenal arti kata cemburu?

“Mama sayang, aku mencintaimu. Tak pernah terbersit niat untuk bercerai darimu. Takkan pernah. Tapi, biarkan aku untuk juga memberikan pertolongan kepadanya…” permintaan suamiku masih terngiang-ngiang di kepalaku.

“Kamu adalah istri yang sangat bijaksana. Primadona hidupku. Panutan setiap wanita, Ma…” katanya lagi sambil menatapku dengan tatapan yang sama lembutnya seperti hari-hari yang lalu.
Air mataku masih terus bergulir. Hati perempuanku terasa sakit karena diduakan. Aku tak tahu lagi apakah kalimat arif suamiku masih bisa kupercaya? Dan sesungguhnya kini, aku tidak tahu lagi mana yang harus kupegang. Tak sadar lagi dimana kakiku berpijak. Segalanya terasa gamang.
***
Berhari-hari diriku merasa bagai di Neraka. Bobotku turun drastis. Betapa inginnya hati ini dapat berpisah dari pria itu, menunjukkan bahwa aku pun juga bisa berdiri tanpa dirinya yang menopangku. Materi bukanlah satu masalah. Aku bisa memulai dari nol lagi. Membangun usaha yang dulu kurintis bersama-sama suamiku.

Tapi, ada sesuatu yang tak mampu kulepaskan.
Ada satu ikatan yang menyebabkan hati ini tak mampu menjauh dari dirinya. Meski nyata-nyata ia telah mengoyak-ngoyak kesetiaan pernikahan kami. Entah mengapa, aku membiarkan segalanya berlalu seperti air sungai mengalir. Membiarkan suamiku sayang mulai membawa wanita itu ke rumah kami, memperkenalkannya padaku secara resmi, meski sebenarnya tak perlu dilakukannya karena kami telah saling mengenal dengan cara yang sangat tidak mengenakkan dulu.

Dibalik senyuman dan wajah yang tetap ramah, aku membiarkan hatiku serasa dirobek-robek saat menyaksikan tangan suamiku merangkul pundak wanita itu seperti yang selalu dilakukannya padaku.

Aku menepis bayangan dalam pikiranku sendiri tentang apa yang mereka lakukan saat aku tak berada di antara mereka. Tidak! Aku tak sanggup membayangkannya!
Namun, aku tetap berdiam diri. Entah mengapa aku membiarkan semuanya terjadi. Sampai kapan, aku pun tak tahu pasti.

***
Suamiku sayang masih sehangat dulu. Senyuman menawannya masih terukir di wajahnya saat menatapku. Sorot matanya masih lekat menatapku seperti dulu. Tapi aku tahu ada yang berubah disana. Telaga cinta di mata suamiku tak lagi kutemukan kini. Apa mungkin telaga itu telah berpindah tempat?

Aku membayangkan dalam hati yang kian miris dari hari ke hari, apakah ‘madu’ suamiku menemukan telaga itu di mata pria itu sekarang?

Aku terpekur dalam ketidakberdayaanku. Terbelenggu dalam komitmen cinta yang kupatri sendiri untuk orang yang paling kukasihi itu. Senyumku masih membebat di setiap kesempatan. Tatap mataku padanya masih sehangat dulu, kala cinta suamiku belum terpecah.

Tapi cinta…ah, cinta. Apakah itu kini aku masih punya?

***

Jakarta, Nov'06

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
dadun at CINTA YANG TERBAGI (12 years 23 weeks ago)
70

ada beberapa kerancuan seperti pada "Apakah itu kini aku masih punya?".

kebanyakan memang kerancuan itu terkesan manis dan indah. tapi maaP untuk yang ini kok rasanya.... tawar, bahkan agak seret gitu.

tapi good job.

Writer meier
meier at CINTA YANG TERBAGI (12 years 24 weeks ago)
60

setuju indah ceritanya,tapi ada kesan datar, monoton,statis

Writer splinters
splinters at CINTA YANG TERBAGI (12 years 24 weeks ago)
80

keindahan cerita ini terletak pada kemampuannya untuk mengobrak-abrik preferensi semua orang; menarik pro dan kontra yang ada ke satu kutub di mana semua lebur dan penghakiman tak lagi ada. Karena yang ada hanya rasa. Kekuatan rasa. Karena semua orang bisa menghubungkan diri dengan rasa. Dari cerita2 Mbak Sherlyn yang terdahulu, aku ingin melihat Mbak Sherlyn bermain-main lebih leluasa dengan 'deskripsi latar' :) senang ketemu dirimu di kopdarrr!!! ;p

Writer ima_29
ima_29 at CINTA YANG TERBAGI (12 years 24 weeks ago)
80

seperti inikah makna cinta tante??

klo aku boleh usul..penerbitnya kali yang bodo dan kurang jeli kali tante..hihihihi

luv u tante...crita yang menyentuh hati

Writer unak unik
unak unik at CINTA YANG TERBAGI (12 years 24 weeks ago)
90

cantik kaliiii mbak sher... tulisannya cantik..
baru kali ini baca tulisan tentang poligami yang gak bikin gue pengen... pengen mengutuki lelaki dan mencibir bodoh ke wanita hahahaha.. skali lagi cantikkkk.

berbagi rasa dan emosi tanpa membuat yg baca emosian tapi mengerti emosi itu sendiri.

Writer sherlyne_dee
sherlyne_dee at CINTA YANG TERBAGI (12 years 24 weeks ago)

Wah, gak nyangka nih responnya bagus. Makasih ya teman2?
Sedikit cerita nih. Cerpen ini kutulis dari kisah nyata seorang wanita yang di-poligami. Aku berusaha menyelami segala kepedihan yg dirasakannya, dan akhirnya, terciptalah cerpen ini. Thanks God kalo bisa menyentuh pembaca. Selesai menulis, kupikir juga lumayan, n kukirim ke beberapa media massa. Tapi setelah gak ada yg memuat, aku kembali pikir ini jelek n kecewa. Hingga akhirnya ku-post disini.
Komen2 rekan2 membangkitkan kembali semangatku yg mulai pudar terkikis vonis Penerbit. Tengkyu ya...
Tuk Nuke: Dapet komen dari kamu tuh, udah buat surprise. Apalagi pas baca komenmu kali ini, hatiku jadi berbunga-bunga nih. Thanks ya say. Jarang2 nih kamu kasih komen yg good. he he he...
Julie: thanks ya komen n supportmu. Ya, aq jadi semangat lagi nih buat nulis.
frenzy:aduh, yg bener nih? jadi seneng. he3.Tapi bener jg kalo kamu bilang tlalu cepet tuntas. Barangkali itulah sebabnya cerpenku ini ditolak melulu kali ya? Masukan bagus Frenzy. Thanks ya. btw. kok ga dateng di kopdar? Banyak yg nanyain lho.
witch:terlalu feminis ya? ha ha. maybe, meski aq gak tau apakah aku type feminis bukan.Tapi ya itu tadi. tersentuh aja dengan wanita yg dipoligami itu. Spt biasa, kalo tersentuh sesuatu, biasanya kusalurkan lewat tulisan.Tx ya komennya. Kopdar kok ga dateng?
KD: Wah, aq acung jempol ma cowok satu ini.(dng cat: kamu co kan ya?) Diantara para komentator lain yg seluruhnya cewek, cuma KD cowok yg kasih komen. 10 pula nilainya.(komennya mode baru ya?Boleh juga tuh diterusin). Thanks ya. Kemarin Kopdar 'dek KD ini kok ga dateng? Padahal banyak lho yg nyariin, baik wanita maupun pria. Penasaran. He he he...
Buat yg lain, ditunggu ya komennya...

Writer w1tch
w1tch at CINTA YANG TERBAGI (12 years 24 weeks ago)
70

para feminis akan suka (seperti orang yang pertama kasih komen di sini).
well, nothing wrong with that...
bagus, kok, Sherlyne (namamu seperti nama sepupuku), hanya saja, kalo kembali ke subjektifitas, aku perempuan, dan aku melihat cinta dengan cara yang berbeda (dari yang kamu tulis).
tapi, pernah kutulis ke FrenZy juga, kalo ada yang nentang isi tulisanmu, berarti tulisanmu bagus...

yeah, yeah..., roll over beethoven...!

Writer KD
KD at CINTA YANG TERBAGI (12 years 24 weeks ago)
100

eksperimentasi(5),alur(6),
kosakata(8),kedalaman(7), piutang KD(3.5)
****************************
kategori: INFERNO, EARTH

Writer FrenZy
FrenZy at CINTA YANG TERBAGI (12 years 24 weeks ago)
80

aku suka bacanya. menurutku ini salah satu cerpen terbaik yang pernah ditulis oleh sherlyne :) alurnya memang lancar, bahasanya juga cocok, dan perperangan batin dilukis dengan baik. aku rasa, sedikit aja tambahan supaya akhirnya tidak tuntas begitu cepat :)

Writer julie
julie at CINTA YANG TERBAGI (12 years 24 weeks ago)
80

satu kata KEREN. cerita mengalir dengan lancar dari awal sampai akhir. Mbak juga berhasil menampilkan konflik batin si Aku dengan pas.
......................
Mbak Sherlyne saya berharap mbak tidak berhenti menulis walau penerbit belum bisa menerima tulisan Mbak.

Writer v1vald1
v1vald1 at CINTA YANG TERBAGI (12 years 24 weeks ago)
90

LUAR BIASA!!! Suatu tulisan yang sangat tepat menyoroti hati perempuan. Emosi yang tergambar begitu menusuk-nusuk. Sehingga tak heran kalo perempuan yang membaca tulisan ini akan menitikkan air mata.