Kepingan Keputusan

Gunungan atau rumah minang! Putus atau tidak!

Harry menghela nafas panjang. Digenggamnya dengan kuat uang logam seratus rupiah lama itu. Pinggirannya terasa keras menusuk telapak tangannya. Saat ini dia harus segera memutuskan bagaimana kelanjutan hubungan cintanya dengan Nurul, sang kekasih.

Harry berdiri tegak mematung. Wajahnya kusut seperti lapisan tanah yang didera kemarau panjang. Terlihat lusuh dan berdebu. Rambutnya acak-acakan, layaknya padang ilalang yang diporak-porandakan badai.

“Persetan!” teriaknya sambil mengayunkan lengannya keras.

Wusss… Uang logam itu terlunta-lunta mengikuti sebuah petualangan. Gerakannya berputar-putar, deras seperti menerobos ruang hampa. Kedua sisinya membuat kilatan-kilatan diterpa sinar matahari. Terbang tinggi hingga menyentuh dan melintasi pucuk daun kelapa.

Gila! Entah kekuatan dasyat apa yang telah mendorongnya. Kekuatan cinta ataukah kebencian. Dan pada puncak ketinggian, uang logam itu membuat lengkungan parabola. Kekuatan gravitasi kuat menariknya, lebih deras dari gerakan naik. Sepasang mata Harry terus mengawasinya. Kepalanya ikut bergerak mengikutinya, membuat sebuah lengkung parabola.

Tring… Tring! Uang logam seratusan rupiah lama itu menghantam bebatuan sebelum sempat mencium tanah. Pantulannya membentuk lengkungan-lengkungan kecil, menggelinding melintasi halaman rumah orangtua Harry. Beberapa meter kemudian uang logam itu jatuh dalam kepasrahan yang dalam. Ia telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Dengan hati berdebar Harry mendekatinya. Sebuah keputusan telah terhampar di permukaan tanah.

Gunungan! Berarti putus. Kata hati Harry mendesis.

Harus seperti itukah keputusannya? Harry menghela nafas panjang. Seperti ada sebentuk keraguan menggelayuti jalan pikirannya. Perasaan tidak puas tergambar jelas di wajahnya. Energi keraguan itu disalurkannya dengan berjalan mondar-mandir di halaman rumah. Sesaat, hingga dia duduk kelelahan di teras.

“Setahun ini haruskan berakhir dengan gambar gunungan? Putus begitu saja?” Pergulatan mendera batin Harry.

Tapi bukankah keputusan itu sudah beberapa kali mengganggu otakku. Tapi keputusan yang berdegup di dalam dada itu selalu saja kelu di lidah. Tak pernah bisa terusap. Ya, aku selalu saja menyerah kalah begitu berhadapan dengan Nurul. Semuanya seperti luruh begitu saja ketika melihat senyum manisnya. Ketika mendengar penjelasan-penjelasannya. Padahal aku datang dengan bara emosi yang menyala-nyala. Tapi kata-katanya yang lembut bisa begitu saja menyiramnya.

Crash! dan padam seketika. Sebenarnya kekuatan apa yang terpendam dalam senyum manis Nurul? Hingga aku selalu saja mengalah dengan segala kesombongan dan kecuekannya. Jangan-jangan aku terlalu lemah, hingga begitu mudahnya dia memegang kendali permainan. Tidak! Tak akan kubiarkan semua itu berlarut-larut.

Bertahan? Untuk apa. Toh keberadaanku tak pernah dihargai. Berjalan berdampingan, memang. Tapi untuk apa menyusuri perjalanan dengan diam? Melewati malam minggu berdua, memang. Tapi untuk apa bila hanya duduk berhadapan. Dengan senyum manis Nurul akan mempersilahkan aku menikmati hidangan yang tersedia. Segelas kopi dan makanan kecil. Seakan aku hanya robot pengunyah makanan.

Kemudian seperti Nyonya Besar yang telah selesai mengurus tugas rumah tangga. Nurul akan menemaniku sambil membaca novel atau komik Jepang. Membiarkan aku seperti sesosok patung batu. Ketika baru beberapa patah kata, Nurul akan mengambil sebuah buku dan menyodorkannya kepadaku.

“Bukankah kamu suka membaca…?”

Kalaupun ada pembicaraan panjang, berarti tidak ada stok bacaan untuk malam minggu itu. Pada saat itu aku harus menjadi pendengar yang baik. Segala perkataan dan pendapatku seakan ditumpas begitu saja argumen-argumennya. Begitu hebatkah pengaruh sebuah buku?

Tapi entah mengapa selalu ada harapan yang meletup-letup ketika menyongsong malam minggu. Harapan yang membuat langkah dan tangannya ringan mengetuk pintu rumah Nurul. Harapan bahwa malam minggu kali ini, Nurul akan bersikap lebih manis.

Gila! Harry kembali mendesah. Gejolak hatinya seperti hendak ditumpahkan pada bunga-bunga dan hamparan rumput yang ada dihadapannya.

Nurul memang cantik, manis dan sorot matanya begitu meruntuhkan hati siapa saja yang memandangnya. Aku kadang tak habis pikir, bagaimana Nurul sampai bisa begitu saja menerima cintanya.

Tapi mengapa harus ada segumpal kesombongan yang menodai kecantikan Nurul. Kesombongan yang membuat cowok-cowok riskan untuk mendekatinya. Dicuekin adalah efek yang masih mendingan, karena bisa saja Nurul mengumpatnya habis-habisan. Gila man! Cowok mana yang mau diumpat oleh seorang gadis, secantik apapun dia.

Lalu ketika perjuangan Harry yang tidak kenal kata lelah dan menyerah membuahkan hasil yang gemilang. Cowok satu sekolahan bersorak. Hebat kau kawan!

Bah! Untuk apa kebanggaan itu. Seperti seorang pejuang yang berhasil menaklukkan musuhnya tapi tak bisa berbuat apa-apa ketika duduk di atas tahta kemenangannya. Satu tahun berjalan, tak ada perubahan yang berarti.

“Laki-laki tidak boleh diberi hati sedikitpun. Mereka bisa berbuat macam-macam. Dan kerugian selalu membayangi perempuan….’

“Wanita harus bisa tegar dan tegas agar ia tidak dipermainkan.”

Entah sudah berapa kali kalimat itu meluncur dari bibir Nurul. Oalah! Siapa yang mau mempermainkan siapa? Siapa juga yang mau berbuat macam-macam. Jangan berburuk sangka dong!

Kenapa tidak pilih prinsip hidup yang netral-netral saja. Kata hati Harry seperti berontak.

Pilih saja prinsip seperti ini. Wanita itu harus bisa tegar menjalani hidup dengan tidak mempermainkan agar tidak dipermainkan. Eh.. salah. Wanita harus bisa tegar menghadapi permainan hidup. Sialan. Kacau.

“Percuma mengubah prinsip hidup seseorang. Toh itu hak dia. Memang bisa orang menjalani hidup ini sendirian.”

Ah… sudahlah. Untuk apa berlarut-larut memikirkannya, toh belum tentu Nurul memikirkan keberadaannya. Harry menarik nafas panjang dan lama.

“Hari gini masih memperdebatkan prinsip hidup!”

Ya, Tuhan dengarlah keluhan hambamu ini. Dari kebersamaanku dengan Nurul, aku tidak menuntut apa-apa. Selama ini aku sadar bahwa aku tidak bisa memberi apa-apa kecuali perhatian dan ketulusan cinta. Apabila Nurul mau menghargai keberadaanku, sebenarnya itu sudah lebih dari cukup! Bukankah Engkau menciptakan aku dengan bekal nurani dan perasaan, bukan segumpal batu. Bukan begitu, Tuhan!

Untuk apa lagi mempertahankannya! Demi sebuah eksistensi bahwa aku adalah laki-laki terkuat di antara sekian laki-laki? Laki-laki yang bisa bertahan sekian lama menghadapi keangkuhan demi keangkuhan yang ditunjukkan Nurul. Demi menghindari cibiran dan olok-olok dari teman-temannya.

“Akhirnya kamu menyerah juga!”
--- oOo ---

Harry bersiap untuk berdiri kembali. Kedua tangannya mengepal meninju permukaan tanah. Dalam genggaman tangan sebelah kanannya sudah tergolek uang logam ratusan rupiah lama. Pasrah menunggu detik-detik takdir.

Harry menatap tajam ke arah langit, seperti hendak menantang sinar matahari. Posisi itu bertahan beberapa lama. Seperti serdadu Jepang yang hendak harakiri, menyongsong ribuan anak panah yang meluncur deras dari langit.

“Tuhan! Bantu aku mengambil keputusan…”

Dan… Wuussss! Kembali uang logam itu dipaksa menikmati kembali sebuah petualangan. Kali ini lebih dasyat lesatannya. Bahkan daun-daun Mangga tidak mampu menahan lajunya. Rontok dan bertebaran kemana-mana. Untung saja kedua orangtuanya sedang pergi ke luar kota. Kalau tidak mereka akan pingsan melihat halaman rumah dan anak laki-lakinya begitu acak-acakan.

Kali ini Harry tidak mau mengawasi petualangan uang logam itu. Tatapan terlihat kosong menekuri tanah. Harry membiarkan telinganya bekerja. Serpihan-serpihan daun Mangga terasa keras menghujani tubuhnya.

Tring… Tring! Uang logam itu kembali terantuk batu dan menggelinding cepat. Mungkin akan lebih jauh beberapa meter lagi bila gerakannya tidak mendekat ke arah kaki Harry. Ibu jari kaki mengakhiri petualangannya. Uang logam itu menggelepar beberapa kali. Sebuah jawaban kembali terhampar di matanya.

Rumah Minang! Berarti Tidak.

Harry menghela nafas panjang. Kata hatinya kembali bergejolak. Haruskah seperti ini Tuhan? Untuk apa? Mengapa? Apalagi yang harus dipertahankan? Masihkah aku mampu mempertahankannya? Mempertahankan sebentuk cinta untuk segumpal kesombongan?

Tuhan, mengapa Engkau ikut mempermainkah hatiku. Mengapa Engkau menggangu jalan pikiranku.

Dan uang logam ini. Sialan! Harry menghardik. Bumm! Kakinya menginjak keras. Tega benar kau, Harry. Sudah dilempar-lempar masih pakai acara diinjak segala.

Masa bodoh! Runtuk Harry dalam hati. Hanya uang logam seratus rupiah ini. Uang logam peninggalan orde baru lagi.

Kata hati Harry seperti tersulut kembali. Memang sudah satu tahun kebersamaan ini. Waktu yang cukup lama, bahkan mungkin sebuah prestasi kesabaran yang hebat. Atau jangan-jangan memang aku yang terlalu lemah dan bodoh.

Mempertahankannya? Bukankah itu hanya akan menambah luka? Tapi tegakah aku melukai perasaannya. Melukainya? Bukankah selama ini Nurul tak pernah menghargai keberadaanku. Lalu, apakah dia akan menangisi kepergianku?

“Kamu yang bodoh! Kamu terlalu menimbang-nimbang.” Kalimat itu tiba-tiba menggema dari sudut entah dan memenuhi benak Harry.

“Tak ingatkah bagaimana kedekatanmu akhir-akhir ini dengan Rin, siswi baru itu? Bukankah kamu sudah sering curhat dengan Rin tentang masalah yang kau hadapi. Bukankah teman-temanmu sudah menganggap kamu goyah. Bukankah kamu sudah menyalakan sumbu peperangan. Bukankah Rin begitu cantik, bahkan lebih cantik dari Nurul….”

“Aku tahu tanpa aksi lempar-melempar uang logam, kamu sudah punya keputusan. Kamu hanya bimbang teman. Kenapa tidak kau ikuti saran Edwin, temanmu itu…”

Saran Edwin? Dahi Harry berkeryit. Saran untuk terus mendekati Rin sampai ada kepastian untuk memutuskan Nurul. Atau dekat dengan Rin sementara hubungan dengan Nurul tetap berlangsung.

“Tenang saja, nggak bakal ketahuan,” kata Edwin menenangkan.

“Kulihat Rin sangat baik kepadamu. Ia sangat memperhatikanmu. Sebetulnya apalagi yang kamu pikirkan. Bukankah kamu mulai tertarik kepadanya. Bukankah Rin itu begitu cantik, bahkan lebih cantik dari Nurul… Aha aku tahu… Kamu takut kehilangan Nurul tapi tak ingin melewatkan kesempatan mendekati Rin, bukan begitu…” Kata itu kembali menggema memenuhi ruang hati Harry.

Sudah… Sudah! Hentikan! Jangan berperang dalam hatiku. Jangan porak-porandakan jalan pikiranku.

Tapi, Rin memang cantik. Kebersamaanku dengannya akhir-akhir ini untuk apa? Rin bisa mengerti jalan pikiranku, mau mendengar keluh kesahku. Bukankah itu pertanda yang sudah bisa dibaca dengan jelas.

“Jangan-jangan memang harus seperti ini keputusannya,” kalimat itu begitu menggelora dalam benak Harry.
--- oOo ---

Harry kembali mengambil uang logam yang merangsek ke dalam tanah akibat pijakannya. Diusapnya serpihan tanah yang melekat. Diciumi kedua permukaannya dengan perasaan yang mendalam.

Ini untuk yang terakhir kali, tekad Harry membulat. Digenggamnya uang logam itu dengan posisi seperti lemparan yang kedua.

“Yang terakhir Tuhan! Bantulah…”

Wusss! Uang logam itu kembali terlunta-lunta. Entah mimpi apa dia semalam. Lemparan kali ini benar-benar dasyat. Uang logam itu deras menerobos udara. Tinggi hingga hilang dari penglihatan Harry. Kemana dia?

“Semoga keputusanku tidak disambar burung gagak,” batin Harry cemas. Tiba-tiba terdengar bunyi klotak-klotak dari atap rumah. Sialan! Menuju ke sana.

Harry menatap lekukan-lekukan genting dengan berkacak pinggang. “Kutunggu kau disini!” teriaknya keras. Semoga tidak ada tetangga yang mendengar dan melihatnya.

Tring.. tring… Dan keheningan tiba-tiba menguasai keadaan.

Harry terus mengamati lekukan genting. “Siapa yang berani menganggu keputusanku. Kembalikan dia!”

Sesaat, dua saat… tidak ada perubahan sedikitpun. Tak terasa, perjalanan hari sudah merambat memasuki senja. Langit di sebelah barat sudah menyemburatkan cahaya kemerah-merahan. Memang sudah senja, desis Harry.

“Haruskah aku nekad melihat kepingan keputusan itu dengan menaiki tangga?”
--- oOo ---

Depok Radja, 25 Desember 2005

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Kepingan Keputusan (7 years 33 weeks ago)
90

konflik batin yang dituliskan secara luwes?
haha, like this

Writer abdi_babat
abdi_babat at Kepingan Keputusan (12 years 12 weeks ago)
50

Hebat

Writer imoets
imoets at Kepingan Keputusan (12 years 22 weeks ago)
80

top banget...
walaupun hanya ada sosok harry yang bergulat dengan pikirannya sendiri,tapi sangat interaktif.gak monoton...
congrats

Writer bukanpuisi
bukanpuisi at Kepingan Keputusan (12 years 25 weeks ago)
70

mnurut gwa secara ide lumayan menarik. cukup mendeskripsikan keadaan isi hati si harry.
dan 1 lagi, pemilihan bahasa nya bagus banget, aku suka :)

Writer v1vald1
v1vald1 at Kepingan Keputusan (12 years 33 weeks ago)
80

Eleh..eleh kang, hampir saja aku beri nilai 9, karena bahasa sastramu yang sudah bukan kelas biasa. Tetapi ada muncul tiba2 kata "DICUEKIN"?? Nah, pasti kelewat pas fase editing, atau nulis ceritanya dah malem, dan otak dah mampet sewaktu kebentur dalam mencari sinonim? -diacuhkan- itu salah satu yang umum gw tahu.
---
overall nice

Writer cahayarembulan
cahayarembulan at Kepingan Keputusan (12 years 37 weeks ago)
60

Mmmm... sebenernya aku rada awam sih, jadi agak ragu juga kalo menilai kurang baik :) Pertama, aku kurang suka idenya, ngambil keputusan kok ditentuin koin? Kedua, kurang suka dengan isi ceritanya. Intinya cuma kebingungan yang dipanjang2in, tanpa penyelesaian yg jelas. Memang dalam kehidupan nyata banyak keputusan yg ga mudah diambil, tp kalo pake koin... gimanaaa gitu...

Writer mamoru
mamoru at Kepingan Keputusan (12 years 39 weeks ago)
70

Bagian awalnya kurang begitu suka, yaitu pada saat penggunaan parabola, terlalu monoton. Tp akhirnya seiring jalannya alur cerita, penggunaan flash back dalam pikiran si tokoh mampu membuat pembaca menjadi membayangkan realitas kehidupan si tokoh

Writer Valen
Valen at Kepingan Keputusan (12 years 39 weeks ago)
90

Aku suka dengan cara penulis menggambarkan emosi cowok yang kebingungan apakah akan lanjut atau memutuskan kekasihnya. Deskripsinya sungguh mengalir dan kita bisa merasakan emosi yg menggelegak di dada si cowok. Jangan2 cerita Bung Setiyo ini sudah pernah dimuat ya di media massa?
Sayang endingnya gak jelas seperti apa ya?

Writer ekawidhi
ekawidhi at Kepingan Keputusan (12 years 39 weeks ago)
70

Meski aku jarang baca buku tentang hubungan Co dan Ce. tapi yang satu ini bisa dikatakan Sangat Menarik untuk dibaca kelanjutannya.
cerita cinta tentang cewek yang Plus min memang selalu menarik untuk di baca.

Writer cen nih...
cen nih... at Kepingan Keputusan (12 years 39 weeks ago)
70

hehe...cowo plin plan ni...nice story..thx for sharing..

Writer PoeTry_ThaMie
PoeTry_ThaMie at Kepingan Keputusan (12 years 39 weeks ago)
90

Wow!!
Gokil, oce!
Ekspresif, yo'i!!
Bgus, gilaaa!!
Lanjutin dong, petualangan si "uang logam" yang nyangkut!!
Hehe...
Semangat!

Writer F_Griffin
F_Griffin at Kepingan Keputusan (12 years 39 weeks ago)
90

Lucu!
Iramanya pun pas!
Dramatis!
Rapi!
Deskriptif!
ah... ini ponten dari saya.
Lagi! Beri kami lagi!

Writer dialian
dialian at Kepingan Keputusan (12 years 39 weeks ago)
50

ehmm erita pertama yang gw baca setelah bisa login kemudian.com...
kemudian??? ketemu ga koinnya, bang??

Writer xectra
xectra at Kepingan Keputusan (12 years 39 weeks ago)
90

Gw suka banget sm pemilihan kata2nya, pas bgt. Suasana hati si tokoh jadi lebih kebayang. Ternyata banyak ya penulis2 muda kita yang jago nulis.