Masa Tanah Depan

Dari lubang itu terpancar secercah cahaya, hanya secercah, tapi cuma itu yang kami bisa miliki.
Entah sudah berapa lama kami tinggal di bawah tanah. Kami tidak kenal waktu. Karena di sini tidak ada siang, tidak ada malam. Yang ada hanya gelap. Hanya gelap.

Aku mencoba melubangi tanah yang sebelumnya sudah kusiram air, air tanah. Kehidupan di sini dari tanah kembali ke tanah, selalu begitu, jelas sekali. Entah kenapa kami tinggal di bawah tanah. Bahkan aku tidak tahu bagaimana rupaku. Rupa orang yang melahirkanku juga. Yang ada hanya gelap. Hanya gelap.

Pikiranku terus menerawang jauh, aku ingin keluar dari sini. Aku tahu ada kehidupan di luar sana. Di balik titik cahaya dari lubang yang dibuat entah siapa. Ya, karena di sini gelap. Aku ingin sekali ke sana, entah bagaimana caranya. Aku hidup dari air yang menetes di dinding-dinding tanah, kugunakan lidahku untuk meminumnya langsung, atau kusimpan dalam mulutku sampai aku menemukan tempat untuk menaruhnya, biasanya tanah yang kubentuk.
Aku tidak tahu bagaimana aku lahir, yang mana orang tuaku, siapa aku dan hal-hal rumit lain yang tidak bisa aku jawab. Tapi yang pasti, dengan titik cahaya itu aku bisa melihat sebagian rupa mereka, sewarna tanah rupa mereka. Seram dan seram. Kami tidak pernah bicara satu sama lain, walaupun bersentuhan, bahkan bertubrukan sekali pun. Kami tidak melihat apa pun. Hanya suara. Melihat suara.
Makan? Jelas aku hanya makan tanah. Enakkah? Tidak tahu, ya, hanya itu yang kumakan jadi aku tidak kenal apa itu "enak", tapi kadang ada tanah yang keras atau batu yang membuat mulutku sakit. Itu saja.

Tanganku mulai linu, sudah cukup lama aku mengorek –ngorek tanah, ingin menemukan titik cahaya lain. Titik cahaya kemarin sudah dirubungi banyak orang-orang bodoh yang hanya sekadar ingin melihat rupanya. Jadi tidak mungkin aku menggali disana, pasti dikiranya aku mau merusaknya.

Aku istirahat sejenak, tanganku perih. Aku melipat kedua tanganku dan merapatkanya di dada. Aku merasakan bagian keras dari dadaku. Tidak ada tonjolan daging atau semacamnya yang bergelayut seperti yang dimiliki orang yang kulihat di titik cahaya. Hanya sekilas, tapi aku cukup memperhatikan. Ada perbedaan-perbedaan dalam orang-orang di tempat ini. Kadang aku memang pernah bersentuhan, tapi tak pernah terpikirkan adanya perbedaan dalam diri kami masing-masing. Karena tidak terlihat, tentu saja.

Aku teruskan menggali. sambil menggali aku memikirkan tentang apa-apa yang ada di luaran sana. Terang, jelas, dan berwarna. Baru sampai situ aku berpikir, jariku mulai sakit lagi, perih betul. Aku jilat saja. Tanah basah, dan cairan yang agak kental, aku tidak tahu apa, tapi rasanya ini bukan air. Kental dan hambar. Terasa betul hambarnya. Sepertinya cairan itu keluar terus dari jariku yang perih tadi. Aku diam sejenak. Tapi tak bisalah aku diam terus begini. Aku gunakan saja tanganku yang lain untuk melanjutkan menggali, paling tidak diteruskan. Daripada tidak.

Aku mulai membuka mataku, tapi tidak ada bedanya, sama-sama gelap. Sama-sama tidak terlihat apa-apa. Aku jadi semakin semangat menggali. Air juga mengalir dari tanah dekat aku menggali jadi tidak perlu banyak mencari, meraba, dan berjalan. Bisa saja aku kehilangan tempat aku menggali jika aku berpindah. Itu merugikan sekali.

Sudah lama aku menggali dan menggali. Membosankan sekali. Mustahil aku bisa membuat lubang seperti di titik cahaya. Lubang itu terbentuk karena ada goncangan yang entah dari mana, lalu terbentuklah lubang itu. Ah, tidak! Ada orang yang mengoreknya, aku percaya itu. Goncangan itu bukan alasan titik cahaya itu terbentuk.
Aku hanya kebetulan berjalan lewat situ, dan melihat banyak makhluk hidup, yang kukira tanah yang bergerak-gerak, itulah kami, manusia yang tinggal di tanah. Pertama kalinya aku melihat. Rasanya mataku keluar air. Perih, dan perih, saat itu aku tetap melihat cahayanya walau perih. Aku ingin melihatnya.
Sepertinya tempat aku hidup ini penuh dengan lorong-lorong, tapi aku tidak ingat bagaimana bentuknya, karena aku tidak tahu apa aku sudah melewatinya atau berkali-kali melewatinya. Aku hanya meraba dan berjalan.

Mustahil adalah kata-kata yang memenuhi pikiranku sekarang. Mustahil. Mustahil. Hanya mustahil. Semakin kupikirkan semakin pusing aku dibuatnya. Pusing.

Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya ingin keluar dari tempat ini. Aku ingin melihat apa-apa di luar sana, apa-apa yang kubayangkan selama ini. Aku ingin ke sana. Ingin sekali. Dan yang terpikir dalam benakku sekarang hanya ingin pergi kesana. Mungkin di sana lebih berwarna, selain hitam. Aku tidak tahu apa, pokoknya selain hitam. Aku memejamkan mata. Hitam juga. Tapi biarlah, kadang muncul macam-macam dalam pikiranku saat aku memejamkan mata. Walau aku tidak pernah ingat apa.

Aku kembali terjaga, hitam lagi. Putus asa aku dibuatnya. Aku menendangi bakal lubang yang ada di depanku. Aku menandainya dengan tanah yang kuremas, jadi aku tahu mana yang harus kugali, mana arah sebaliknya. Aku berharap banyak dari dinding tanah bodoh ini. Aku ingin melihatnya. Dadaku jadi sesak. Mataku mengeluarkan air. Walau aku tidak kesakitan atau telah menggigit batu, mataku mengeluarkan air. Tak berhenti. Aku merasa kecewa. Aku merasa sia-sia. Usahaku tak ada gunanya. Payah.

Dari tanah kembali ke tanah.

Air yang keluar dari mataku sudah berhenti, itupun diselingi tidur dulu. Kepalau kosong. Makin membosankan. Semangatku pudar. Aku hanya ingin berbaring saja seperti ini. Hanya berbaring. Menunggu keajaiban, lubang yang sedari lama kugali tiba-tiba merekah dan terbuka lebar, terang dan terang. Air tidak lagi mengalir di dinding tapi di atas kepala kita. Tidak cuma hitam, walau aku tidak bisa memikirkan seperti apa. Di sana aku bisa berdiri tanpa terbentur langit-langit. Tanpa perlu meraba dan berjinjit untuk berjalan. Aku ingin seperti itu. Pasti menyenangkan.

Ada suara di sebelahku, membuyarkan lamunanku. Sepertinya orang yang berjalan dan berjalan tanpa tujuan seperti aku dulu. Sebelum punya tujuan seperti sekarang.

Dan terpuruk karena tujuanku tak bisa kuwujudkan.

Bunyi benturan, sepertinya orang itu tidak meraba dengan baik, sehingga terbentur. Tak pandai memperhitungkan. Payah. Pasti orang itu agak bodoh. Aku biasa berpikir demikian untuk membakar semangatku, tapi tidak kali ini, tetap saja putus asa.

Aku mencoba berpikir, aku malas untuk menggali tanah lagi. Cukup capek aku menggali. Pastinya aku tidak bodoh karena aku sudah punya tujuan. Tapi entah sekarang tujuan aku apa lagi. Aku sudah lelah.
Orang tadi sepertinya sudah pergi cukup jauh. Suaranya tidak lagi terdengar. Mungkin orang tadi juga ingin ke tempat yang ada cahayanya.

Tunggu! Bukankah itu artinya dia punya tujuan? Payah. Baru kali ini aku merasa ada yang lebih tinggi dari aku. Aku muak. Aku teruskan berpikir, berpikir dan berpikir.

Selain pusing, aku dapat ide. Aku akan pergi ke titik cahaya itu dan berpikir apa selanjutnya kulakukan dari sana. Bukan sekadar memandangi cahaya, tapi juga menginginkan kelanjutan dari cahaya kecil tersebut. Aku tidak puas diberi kepuasan yang begitu kecil. Seperti yang kupikirkan hal besar yang menarik bersembunyi di balik titik kecil itu. Kalau tidak ada yang mau membukanya, yang kita dapat hanya titik kecil yang makin lama makin kecil.

Aku tinggalkan tempat aku menggali itu, dan mulai meraba lagi. Meraba, berjalan, meraba, berjalan, dan terus begitu. Kalau aku sudah agak lelah, aku duduk dan mendengarkan, kalau-kalau ada suara tetesan air. Paling tidak aku bisa minum, aku bisa hidup.

Aku masih terus berjalan dan meraba. Perutku mual. Aku tidak kuat menahan keinginan untuk segera tiba di titik cahaya. Aku mual. Leherku naik turun. Seperti ingin mengeluarkan sesuatu. Aku ingin segera tiba.

Ingin segera tiba. Itu yang memenuhi kepalaku.

Walau masih ada kata mustahil yang tadi sempat memenuhi. Aku ingin tiba. Kemudian aku menubruk sesuatu. Bukan tanah, lembut dan kenyal, itu manusia.

Ya, itu manusia. Setelah cukup capek aku bejalan. Aku ingin tidur dulu. Tidak, aku ingin melihat cahaya. Langkahku terhuyung-huyung menabrak ini dan itu. Tapi sepertinya cukup banyak manusia di tempat ini, paling tidak aku merasa ini bukan tempat yang salah.

Benar saja, ini tempat yang benar. Di sana ada titik kecil yang bercahaya. Aku harus kesana, harus. Aku menubruk dan mendorong orang yang ada disekelilingku. Aku terus maju. Mulutku sempat memakan benda yang seperti serabut. Sepertinya itu benda yang ada di kepala. Rasanya hambar, tapi sedikit pahit. Ada tanahnya.

Aku sudah begitu dekat dengan titik itu, aku terus mendorong dan mendorong. Sampai tiba di sana. Aku mendekatkan jariku yang perih. Ada sedikit warna lain yang bercampur warna yang kulihat di titik cahaya, warna ini agak terang. Cairan dari jariku memang sudah kering, tapi warna itu masih ada, sedikit memudar. Aku makin membara. Aku harus melihat apa yang ada di balik titik ini.
Tanganku dengan cepat mengorek dan mengorek lubang itu aku ingin melihta lebih banyak. keras, sakit, perih, tapi aku terus saja mengorek. Cahayanya mengecil. Sepertinya aku salah mengoreknya, bukannya makin membuka, justru semakin menutupnya.
Orang- orang di belakangku mulai merasa ada yang salah, merasa hartanya mulai diusik. Mereka berang dan mencakari punggungku, ada begitu banyak suara yang berteriak dan memekik, telingaku sakit. Dari belakang pun banyak yang ikut mendorong, sehingga dorongan yang kuterima pun semakin besar. Aku benar-benar dihajar.
Aku tak bisa berhenti sampai di sini. Aku teruskan sambil menggali, dibumbui cakaran, dorongan, pukulan dan pekikan. Aku tetap terus menggali dan terus menggali. Mereka semakin berang dan semakin kasar.

Tubuhku begitu perih, sakit. Aku merasa sudah ingin kalah, sakit betul rasanya. Semakin banyak orang berteriak memekik, dan mendorong dan mendorong, aku menggali, terdorong sampai menempel dinding, terbentur dan terbebas, lalu terbentur lagi. Kepalaku pusing betul, payah betul rasanya. Terus terbentur dan semakin keras, semakin cepat dan aku merasa tangan yang kupakai untuk menggali tak bisa digerakan lagi, mungkin patah. Aku terus terbentur hingga kemudian...

..."BLAAAAARRRR..."

Dinding itu runtuh. Cahaya. Banyak cahaya. Tapi warnanya tak banyak, hanya warna tanah dan warna cairan dari jariku yang terluka. Penuh menyelimuti seluruh dataran.

Aku mulai goyah. Aku terkapar. Dan sepertinya sudah banyak yang terkapar sebelum aku. Aku bisa melihat tulang begaris-garis di dadaku. Tapi orang yang terkapar di depanku sepertinya diselimuti benda lain, sepertinya untuk melindungi. Entah apa. Tapi jelas, di tempat dia tekapar, warna cairan-jari-luka itu sungguh banyak.

Mataku mulai kabur. Aku mulai kepayahan. Dibenturkan ke dinding hingga dinding itu runtuh bukanlah hal yang menyenangkan. Aku seperti dipaksa tidur. Dan aku harus tidur. Kosong dan kosong.

Sebelum aku tidur, aku mendengar suara yang begitu keras. Seperti bunyi ledakan yang keras. Lalu aku hanya ingin bilang sesuatu.

Aku ingin bilang, bukan seperti ini dunia yang ingin aku lihat.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Rijon
Rijon at Masa Tanah Depan (11 years 17 weeks ago)
60

Iyak itu bacanya Ithunn atau Idhunn!! ð dibaca eth atau edh!!

Emang aku masih bodoh di bidang puisi, di kemudian biasanya bikin cerita. Bikin puisi itu cuma iseng-iseng (soalnya yg lain punya semua), dan aku gak berani bikin puisi tentang perasaan (jadi ambil mitologi aja).

# Makan?, jelas aku hanya makan tanah.

Setelah frase makan gak perlu koma deh?? Dan huruf 'j'-nya ditulis kapital.

# Enakkah?tidak tahu ya,

Sama kayak di atas, kayaknya setelah tanda tanya huruf 't'-nya menggunakan kapital.

# tapi Cuma itu yang kami bisa miliki.

Cuma-nya gak perlu kapital tuh.

# Seperti di ceritamu sebelumnya. Usahakan membangun kalimat dengan pola (minimal) subjek dan predikat (ini bukan puisi bang yg tidak perlu terlalu memperhatikan pola kalimat).

Dan usahakan, jangan ada frase yg 'nyeleneh' berdiri sendiri. Kalaupun mau menggunakan frase-frase untuk penegasan (biasanya untuk memperkaya emosi), gunakan tanda baca yg tepat (agar penggunannya tepat pula).

Misal:
'Tidak!' jangan ditulis 'Tidak.' (karena itu frase, bukan kalimat)
'Makan?'
'Enakkah?'
'Jelas sekali!'

Writer neisca
neisca at Masa Tanah Depan (11 years 27 weeks ago)
50

Lumayan bagus...dapat menggambarkan cerita dari sudut pandang yang tak terduga. Tapi endingnya kurang kentara.
keep writing, salam kenal.

Writer dirgita
dirgita at Masa Tanah Depan (11 years 28 weeks ago)
80

Pernah lihat Kenshin Himura ditimpuk Kaori? Mataku udah kayak mantan Battousai itu. Hehehe karena baca cerita ini. But, kayaknya asyik. Kamu bisa menggambarkan orang yang selama ini hidup di kegelapan, tidak tahu yang mana laki-laki dan perempuan, darah, dan pakaian. Sayang, di bagian akhir kurang jelas. Seperti dreamgarden, perangkah?

Aku hanyalah manusia biasa, yang hanya bisa menkritik karya orang. Aku perlu panduan orang di sekitarku, untuk menkritik karyaku.

Writer dreamgarden
dreamgarden at Masa Tanah Depan (11 years 28 weeks ago)
90

Wah, aku merasa ada sebuah energi filofis dari cerita ini. Tentang seekor tikus tanah ya?

Aku penasaran dunia seperti apa yang dilihatnya. Perangkah?

Writer prayana
prayana at Masa Tanah Depan (11 years 28 weeks ago)
60

menurutku bagus juga untuk pemula
karena gue juga pemula :D
jangan lupa terus berkarya sampe dapetin hatinnya.

Writer gumi234
gumi234 at Masa Tanah Depan (11 years 28 weeks ago)
10

thanks atas commennya..atau cemooh ??? yg aku rasa ngak membangun. banyak sekali amatir seperti kamu..tapi kamu ada nilai lebih ..lebih sombong dan kurangnya.. kurang sopan santun. karyamu msh Standar man !