azura_caelestis : Comments

Writer nusantara
nusantara at (5 weeks 2 days ago)

cara menulis yang baik,
no comment,
saya gak tahu apa komentar dari orang kampung saya, atau dari ustad-ustad atau ulama yang membaca ini, atau siapapun itu yang mengikuti setiap kemana saya pergi atau pengamera dan penyadap internetan saya yang juga membaca cerita ini, mungkin ada sebagian dari ustad LDII atau dari ustad rumahsakit siaga medika. Tidak tahu lah siapa yang ikut membaca apa yang saya baca di kemudian.com ini...
saya no comment.

Writer rian
rian at (3 years 23 weeks ago)

Diksinya... cara penggambarannya... pergantian scenenya... keren. Heran deh, Mbak, kok latarmu bisa multinasional gitu, dan terasa meyakinkan.

Kata-kata dalam cerpen ini rasanya dipilih bener-bener hati-hati. Detailnya praktis, efisien. Kadang2 saya luput sama pergantian latar, dan perlu baca ulang beberapa bagian. Ini agak ngeselin karena di bagian saya semestinya tegang, atau sedih, saya malah bingung. Tapi mungkin ini cuma karena belum terbiasa sama gayanya.

Sori enggak bisa komentar soal subtansinya. Enggak ngerti apa-apa soal tema yang diangkat. Tapi buat saya cara bertuturnya meyakinkan.

Salam. Maaf kalau enggak berkenan.

Writer azura_caelestis
azura_caelestis at (3 years 24 weeks ago)

Halo, daniswanda, terima kasih sudah melipir kemari. Alur yang saya gunakan di sini sebenarnya merupakan terobosan baru juga bagi saya. Sebelum posting di sini, sempat minder dan tanya sana-sini, tapi senang sekali mendapatkan respons yang baik darimu. Sekali lagi, terima kasih.

Writer azura_caelestis
azura_caelestis at (3 years 24 weeks ago)

Halo, saya_waktu. Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca fiksi ini. Saya senang sekali mendapat komentar ini. Ternyata kamu memperhatikan ceritanya hingga ke unsur ekstrinsik dan konflik terkecil. Saya harap, komentar kamu soal mengunjungi lorong Harlem itu bisa menjadi kenyataan. Harlem sesungguhnya merupakan setting baru bagi saya, tapi untuk SoHo dan sebagainya, kadang terlalu sering dibikin setting cerita. Tapi, terima kasih kamu masih menikmatinya.

Writer daniswanda
daniswanda at (3 years 24 weeks ago)

Baru nyadar ternyata ada tulisan barumu...
Yang bisa saya tangkap dari sekali baca adalah mulus sekali perpindahan antara alur utama dan flash backnya. Kalo saya malah biasanya di kasih spasi yg banyak aja biar keliatan flashbacknya...hahah amatir sekali saya ini.
Terus tampaknya kata-kata ajaib seperti bersiribok, terperenyak, tergugu uda jadi budak-budak penurut di bawah jemarimu. Orang lain mungkin perlu berjam-jam buat mikir gimana memakai kata di kalimat yang pas.
Lalu setting ceritamu juga melebur jadi satu dengan jalannya cerita. Seolah ada di hongkong n NYC.
Buat saya pribadi, saya masih kesulitan mencerna diksimu yg terlalu njelimet buat otak saya. Tapi saya tetep suka baca tulisanmu karena sekalian belajar nambah kosa kata.
Keep on writing :)

Writer saya_waktu
saya_waktu at (3 years 24 weeks ago)

hei, seperti biasa, tulisan kamu selalu kasih rasa itu. tertekan, dalam artian yang menyenangkan buat saya. semacamnya digodam biar sadar, tepat di belakang kepala. urusan diksi dan teknis mah kamu udh khatam. yang aku cemburui,kemampuan kamu merangkum kultur yang tercecer di mana-mana.

Ma, yg kerja di pabrik dengan pikirannya yg menyempit, meski sdh bertahun di NYC.
John, si Hidung Bangir kebanggaan keluarga yg cuma bisa merokok.
Jun-yi, Mei Yee, representasi umum ttg immigrants sukses di kota sekeras NYC. puas dgn hidupnya.

dan, seringkali saya pikir Azure sempat menjelajah sampai lorong Harlem. atau bahkan sedang berhipster ria di Williamsburg. desainer penghuni loft2 ikonik itu. kerangka tempat yg kamu lukis sering terasa nyata.

dua poin yg bagi saya adalah kelebihan Azure selain kaya diksi dan pintar main beat di tulisan.

salut selalu dengan keberanian konsisten Azure, mengambil tema yang beresiko segmentatif sangat.

Writer azura_caelestis
azura_caelestis at (3 years 24 weeks ago)

Sedikit. 'ditiban' itu memang sangat Jawa. Ibu saya orang Jawa. Jadi kadang saya tidak sengaja menyerap celotehan-celotehan di rumah.

Writer kartika demia
kartika demia at (3 years 24 weeks ago)

Kalau berbakat menjadi editor, tampaknya itu terlalu berlebihan.Ilmu saya masih cetek. :) Saya masih belajar menulis dan senang berdiskusi saja.
Oiya, apakah kamu bisa berbahasa jawa?
Soal diksi2 lokal yang saya sebut tadi, sebenarnya kata bangir, kelir dan tiban adalah bahasa jawa. Kbbi makin kaya ya ^^

Writer Nine
Nine at (3 years 24 weeks ago)

Hooooh, makasih untuk info yang soal purgatory itu. Sip sip. Menyoal Ma, kalau yang saya tangkap sih, beliau itu sudah mati. Karena Dai kan bunuh diri, sempat dibahas di awal-awal kalau Dai itu masih sayang sama Ma, jadi si Dai mau bunuh diri itu ya indikasi yang kuat kalau Ma sudah tidak ada lagi. ^^

Writer azura_caelestis
azura_caelestis at (3 years 24 weeks ago)

Terima kasih, Demia :) latar cerita ini sebenarnya di New York, Harlem dan Chinatown tepatnya, tapi ada sebagian di Hong Kong. Makanya ada sebagian istilah yang berdampingan dengan kultur Tionghoa.
.
Oya, kamu berbakat sekali jadi editor. Saya bahkan tidak tahu ejaan yang sifatnya sehari-hari. Seringnya berkata kalau itu 'supir' ternyata ejaan yang benar 'sopir' ya. Nanti bakal saya edit di naskah aslinya, biar lebih mudah di Ms. Word.
.
Dan untuk 'bertemperasan' bisa diartikan sebagai 'berhamburan'; 'terserak'. Semoga dapat membantu.