FrenZy : Comments

Writer Villam
Villam at (11 years 16 weeks ago)

Ini cerita tentang dua orang yang menjadi malang karena sama-sama egois—ya ya ya si lelaki lebih egois—yang sama-sama tak bisa berkompromi, yang diselesaikan dengan sederhana dengan cara memunculkan tokoh ketiga—apa boleh buat tak perlu kupikirkan dia muncul dari mana walaupun kata-kata ‘sepuluh tahun lebih muda’ bikin aku bertanya-tanya apakah umur punya arti dalam cerita ini—yang bisa jadi setelah paragraf terakhir itu bakal ada satu lagi kalimat penutup—jika saja penulisnya bukan dirimu—sebagai berikut: ‘Entah kenapa, aku tersenyum lega karena bisa lepas darimu. Aku memang bukan untukmu, dan kau juga bukan untukku.’ Hayyah … Atau yang lebih ekstrim, akhirnya sang ‘aku’ mendapat teman baru pula yang senang menonton bola bersama’ku’. Hahaha… bisa bagus, bisa juga buruk. Sampai di sini, untung kamulah penulisnya.

Perpisahan, apakah itu melalui sebuah kepergian atau kematian, mungkin memang selalu menjadi sebuah langkah mudah. Dalam berhubungan? Dan juga dalam bercerita? Hehehe… akhirnya, ending mellow atau pahit atau apapun namanya tetap jadi pilihan yang termudah dan terbaik, sepertinya. Yeah, apa boleh buat, seringkali itu jenis ending yang aku suka pula, tapi itu karena aku seorang pemurung, dan pastinya kamu bukan, kan? Hehe..

Walaupun, untuk sampai ke ending tersebut aku sebenarnya punya pertanyaan aneh gak penting yang mungkin tak perlu dijawab: kenapa tiba-tiba sampai di angka seratus pasar malam? Di angka berapa dia mulai berhenti merengek? Apakah menjadi ‘aneh’ karena tiba-tiba dia berhenti merengek di angka seratus? Bukankah menjadi tidak ‘aneh’ jika di angka-angka sebelumnya sang dia telah berubah sikap? Lihat, kata ‘aneh’ menjadi aneh buatku. Gila. Ah… sudahlah…

Tapi di luar omongan aneh di atas, satu hal yang paling penting bagiku, karena membuatku terhanyut dalam cerita dan memang begitu seharusnya fungsi dari sebuah cerita—btw, menurutku bagus sekali dirimu tak mengumbar terlalu banyak emosi di sini sehingga menjadi terlalu mellow, berhubung kamu telah memilih bercerita dari kepala seorang pria tak romantis yang … ya memang begitu mereka biasanya kelakuannya—adalah kemahiranmu dalam mengubah plot cerita atau kamu sebut sebagai potongan yang sederhana, menjadi indah, melalui pemilihan kata-katamu, yang … bagus. Huh, udah pasti lah yaw, frenzy gitu loh… Dan juga deskripsi tentang pasar malamnya yang … pas, tidak kurang tidak lebih, menurutku. Intinya, ya gitu deh, aku suka.

Aku rasa … mmm … aku cuma bisa komentar itu. Payah nih, pendek banget ya? Hahaha… Okay, segitu dulu ah … Senang bisa membaca lagi tulisanmu di sini. Aku belum baca cerita barumu yang satunya, berhubung basa inggrisku cekak. Nanti deh, cari kamus dulu. Hihi …

Gila. Aku bikin empat ratus kata lebih untuk mengomentarimu?! Duh … maaf ya, Win, bukan aku bermaksud bikin junk comment atau mengotori ruangmu. Aku cuma senang menulis, baik yang jelas maupun yang tidak jelas. Itu saja. Hehe …

Writer smaradana
smaradana at (11 years 17 weeks ago)

j'etaime --- moi aussi...;)

Writer Arra
Arra at (11 years 17 weeks ago)

penuturan yang mengalir.. dan plot yang 0ke, membuat cerita ini layak baca. Tapi memang ada beberapa bagian yang terlalu banyak konotasi membuat saya bingung.

Writer dian k
dian k at (11 years 17 weeks ago)

Kalau untuk tata bahasa dan permainan kata, you play it good (ya iyalah.. dirimu udah pro, kan? :) ).

Soal plot, oke.

Aq cuma ketemu sedikit difficulty di POV. Kadang bingung siapa yang sedang kamu bicarakan, terutama di bagian 'kutang', karena setauku benda itu dipakai oleh perempuan. Atau kita memikirkan benda yang berbeda, eh? ;)

Writer dikadiman
dikadiman at (11 years 17 weeks ago)

Yaa, aku lebih suka yang Georgia Cries daripada yang ini. Endingnya kurang! Aku suka ide keengganan datang ke pasar malam sebagai perwakilan dari keengganan untuk berubah, tapi dalam cerita ini konsekuensi keengganan untuk berubahnya kurang 'berdarah'! Untuk mengendus sebuah perselingkuhan kayaknya nggak usah lewat seratus pasar malam dulu, deh. Pendapatku doang, sih. Btw, aku baca review bukumu di suplemen belia Pikiran Rakyat.

Writer elbintang
elbintang at (11 years 17 weeks ago)

bukan pasar malam sebenarnya duhai para lelaki tapi "rasa pasar malamnya bersamamu"

ha.ha. frenzy tulisanmu mantab :-)
critanya pas.

*jadi teringat blum memesan bukumu*
----------------
cheers!

Writer noir
noir at (11 years 17 weeks ago)

Gayanya masih sangat Frenzy, cuma aku belum menangkap permainan emosi yang biasanya menyertai tulisanmu ^^

Writer bl09on
bl09on at (11 years 17 weeks ago)

cerai demi pasar malam ego banget ya...

Writer naila
naila at (11 years 17 weeks ago)

mungkin akanseru juga klo dilanjutkan, dan lebih didetailkan mengenai perselingkuhan istrinya. biar jelas maksud ceritanya dan pesannya bahwa jangan kaku dalam berumah tangga tuh nyampe. apa susahnya sih ke pasar malam untuk menyenang istri sendiri. lagian mungkin sejak awal siistri ngajak kesana karena gak nyaman ditaksir pemuda itu, lah tau rasa khan... salah sendiri... intinya bengtu saya tidak fasih memberi kata yang tepat...

Writer noir
noir at (11 years 17 weeks ago)

Mengalir getir...seperti biasa...